Jumat, 09 Agustus 2013

FOREVER OURS - ONESHOOT - CERPEN

Hai! Kembali lagi sama saya, dan kali ini bersama sebuah oneshoot yang bisa dibilang paling normal daripada semuanya. Lol. So here is it. I hope you enjoy this story because yeah—I write it with all my heart. I’d love to receive more reviews and feedbacks, of course :) And yea, as usual, no copy cats without permission or credits ;) Happy jolly reading! xx






Tittle: FOREVER OURS.
Written by: Brigita Yo’ella Beta Shela
Genre: Romance-Hurt, Eternal Friendship.
Suitable for: 14 years and above.
Length: 1 PART – ONESHOOT - 6000++ WORDS.
Inspired by: Reality Show “Friendzone” on MTV, Crush by David Archuleta, and emh—someone out there.
Casts:  Justin Drew Bieber, Tayla Victory Mason, Scarlett Nic Montez, and others.
Caution: All the plots, quotes, and characters are belong to me. Just do not try to steal this oneshoot or my kepongers will slap your mouth. Happy jolly reading! :)




 ***
               

 “Selamanya akan jadi milik kita, bukan?”
               

Wisconsin, Januari 2013.
Justin Bieber menghembuskan napasnya secara tertahan, sedang berusaha untuk menahan sebuah serangan dingin yang menyelimuti kedua tangannya ketika ia mencoba untuk berjalan menyusuri sebuah taman. Ia menggosokkan kedua tangannya, lalu memasukannya ke dalam kedua kantung jaket tebalnya dan terduduk di sebuah kursi yang berada di taman.
                Musim dingin di Wisconsin memang selalu begini, selalu tampak memilukan dan dingin setengah mati. Sehingga rasanya kupluk warna cokelat dan jaket tebal warna hitam yang dikenakannya terasa tak bisa menahan rasa dingin yang hampir meremukkan tulang-tulangnya. Justin Bieber lantas mengambil tindakan dengan merogoh saku jaketnya, mengambil satu puntung rokok dari sebuah kotak dan kemudian menyulutnya dengan api. Ia selalu merasa bahwa rokok bisa menyembuhkan apa saja. Bisa mengusirnya dari rasa gusar, menghalau kepanikan yang menjadi-jadi, dan yang pastinya membuat tubuhnya terasa jauh lebih hangat.

                Jangan merokok. Aku benci melihatmu merokok.

                Justin Bieber mengangkat kepalanya, langsung terkesiap kaget begitu suara itu bergema di seluruh isi otaknya. Ia menghisap rokoknya sekali lagi, lantas menyelipkannya di antara jari telunjuk dan jari tengahnya ketika suara itu menggema dan jatuh bertubi-tubi dalam pikirannya.

                Aku benci melihatmu merokok, Justin. Jangan lakukan itu lagi.

                Justin Bieber mendesis, memejamkan kedua matanya dan berharap suara itu akan segera menghilang secara magical dalam sebuah lubang kecil di otaknya. Namun suara itu nyatanya masih berada disana, memaksanya untuk berhenti menghisap puntung rokok itu dan menjatuhkannya ke tanah. Justin Bieber menggigit bibir bawahnya saat ia melihat sebuah siluet abstrak dalam pikirannya. Lantas dengan secepat kilat ia membuka matanya dan akhirnya membuang puntung rokok itu ke tanah yang berlapiskan es. Dan seperti sebuah sihir, suara itu akhirnya tak terdengar lagi.
                Justin tau persis siapa pemilik suara itu. Dan ia paling tau pemilik suara itu begitu benci saat ia ketahuan menyulut puntung rokok dan menghisapnya berulang kali. Ia paling tau bahwa pemilik suara itu hanya berusaha untuk melindunginya, berusaha mengingatkannya bahwa kebiasaan buruk itu memang sudah seharusnya dimusnahkan. Dan ia juga tau bahwa pemilik suara itu benar-benar mencintainya, meskipun ia tau bahwa sudah terlambat baginya untuk menyadari.
                Justin mendesah, lalu mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru taman yang sudah hampir tak terurus ini. Hawa dingin masih terus mengusiknya ketika ia berusaha untuk mengingat seluruh kejadian yang sering ia lewati di taman ini dulu.

Selamanya akan jadi milik kita, bukan? batinnya.

Justin melenguh dan secara tiba-tiba, otaknya menyalurkan sebuah perintah untuk mengingat semua kenangan itu… Sebuah permainan mengasyikkan yang selalu membuatnya geli. Tangis pertama karena patah hati. Pelukan hangat yang tak pernah dilewati. Janji-janji persahabatan yang tak pernah diingkari. Harapan-harapan baru yang selalu muncul setiap hari. Dan sebuah cinta yang yang muncul tanpa disadari.

                Ia paham betul bahwa tempat ini sudah jauh berubah sejak beberapa tahun lalu. Semenjak ia meninggalkan Wisconsin dan pindah ke sebuah kota pewujud mimpi bernama New York. Ia dalam hati meringis, menyadari betul bahwa seluruh kenangan itu masih tersimpan rapi dalam memorinya.
                Dan kemudian janji-janji itu. Janji persahabatan yang akan selalu diingatnya. Janji bahwa mereka akan selalu bersama selamanya. Janji bahwa mereka akan menaklukkan dunia. Janji bahwa mereka akan saling menjaga apapun kondisinya. Dan juga janji bahwa mereka tak akan pernah jatuh cinta pada akhirnya.
                Namun pada kenyataannya, janji itu memang diingkari, sehingga salah satu diantara mereka merasa dikhianati. Lantas kalau sudah begini Justin bisa apa? Mengulangi kembali seluruh kejadian yang tak akan pernah bisa diulang? Tentu saja jawabannya tidak.

                Karena seperti apapun keadannya, janji memang hanyalah sebuah janji. Dan selamanya pun, janji itu akan selalu diingkari….




--------
Wisconsin, September 2006.
“Kepakkan tanganmu, Tay!” ucap Justin setengah berteriak, “Gerakkan kakimu! Terus kayuh dan tetap tahan napasmu di dalam air!”
                Justin mengigit bibir bawahnya, sementara matanya tertuju lurus pada seseorang yang masih berada di kolam renang, sedang berenang menyeberangi kolam dengan perlahan namun pasti. Justin mulai tersenyum saat seseorang itu sudah hampir mencapai ujung kolam, namun ia mulai menyipitkan matanya ketika seseorang itu  mengangkat tangan dan kepalanya. Lalu menyerukan namanya berulang kali dengan suara yang luar biasa tersengal.
                “JUS-HTIN!” ucap seseorang itu, sukses membuat Justin berlari menuju kolam dan langsung menceburkan dirinya pada air kolam yang terasa dingin. Sempat terbersit rasa cemas dan khawatir saat Justin menyaksikannya hampir tenggelam dan hampir kehabisan napas. Namun Justin dengan professional mengepakkan tangannya di dalam air, lalu meraih seseorang itu dan menariknya sampai ujung kolam.
                “Tayla! Are you okay?” ucap Justin ketika mereka berdua sudah terangkat dari air. Justin yang cemas luar biasa lantas mendudukkannya di pinggiran kolam renang, menyaksikannya hampir kehabisan napas dengan wajah yang merah bukan main.
                “Tayla jawab aku!” ketus Justin, “Apa kau baik-baik saja?”
                Tayla yang masih berada di pangkuan Justin lantas terbatuk, mengeluarkan sedikit air dan mulai memegangi pundak Justin kuat-kuat. Dadanya terasa ngilu dan hidungnya seakan-akan sudah meledak.
                “Tayla!” kata Justin lagi dengan suara sarat kekhawatiran, “Bicaralah!”
                Tayla memegangi pundak Justin sekali lagi, lalu menatapnya. “Dasar sinting!”
                “Ah—syukurlah!” desah Justin, lega karena akhirnya Tayla mampu angkat bicara. “
Kukira kau akan mati!”
                Tayla terbatuk sekali lagi, lalu berusaha menatap Justin dengan tatapannya yang tajam ketika Justin beringsut memeluknya dan menyematkan sebuah senyuman untuknya. “Sahabat macam apa kau sehingga berharap aku mati?!”
                Justin mengerutkan keningnya. “Aku tidak berharap kau mati.” Katanya, “Aku hanya mengira kau akan mati.”
                “Itu sama saja, bodoh!” tandas Tayla, lalu berusaha untuk duduk sambil terus memegangi dadanya yang masih terasa ngilu. “Lagipula harus kubilang berapa kali padamu bahwa aku tidak bisa berenang? Kau tau minggu lalu aku juga tenggelam di tempat yang sama. Kau memang sinting karena kau menyuruhku untuk melakukannya sekali lagi dan akupun hampir mati!”
                Justin tersenyum, lalu mengacak rambut Tayla yang setengah basah asal-asalan. “Terserah saja apa katamu. Yang penting kau selamat!” kata Justin, lalu mencubit kedua pipinya dan menariknya sesuka hati. Tayla mendengus, lalu berusaha melepaskan kedua tangan Justin di pipinya ketika Justin menuntunnya untuk berdiri dan berjalan ke sebuah tempat duduk yang ada di pinggir kolam renang.
               
                Tayla dan Justin memang selalu begini. Mereka selalu bertengkar oleh masalah-masalah kecil,  selalu adu mulut dan saling mengejek, namun pada akhirnya mereka akan kembali dan menyadari bahwa mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain.
                Mereka memang bersahabat. Persahabatan yang penuh warna itu mereka awali sejak empat belas tahun yang lalu, saat usia mereka masih sama-sama empat tahun di pre-school. Waktu itu Tayla sedang kebingungan di sekolahnya, mencari pasangan untuk diajak bergandengan tangan untuk menyusuri lapangan sekolah karena memang begitulah peraturannya; mereka harus mencari pasangan untuk bergandengan tangan dan tak diperbolehkan pulang jika tidak melakukannya. Dan tanpa diundang, Justin akhirnya datang, dengan giginya yang ompong dan rambut yang berwarna kuning terang. Dengan lugunya Justin mengambil tangan Tayla dan menariknya untuk berjalan menyusuri lapangan sekolah sebelum akhirnya diperbolehkan untuk pulang.    
                Dan semenjak kejadian itu, Tayla selalu menghampiri Justin dan mengajaknya bermain bersama. Mereka mempunyai satu kebiasaan untuk mengunjungi sebuah taman yang ada di dekat sekolah jika kedua orang tua mereka terlambat menjemput. Dan rutinitas itu masih mereka lakukan sampai sekarang, sampai mereka sama-sama berusia delapan  belas tahun dan mulai mengakhiri masa SMA mereka yang menyenangkan.
               
                Tayla terbatuk sekali lagi, lalu mulai mengambil handuk yang berada di sebuah kursi sebelum akhirnya mengusapkannya pada rambutnya yang basah. Ia mengambil sebotol air minum, lalu meneguknya hingga tak bersisa dan kemudian menghampiri Justin.
                “Apa kabar Harvard?” kata Tayla sambil menyipitkan matanya, kemudian duduk di sebelah Justin.
                “Baik-baik saja. Mereka sepertinya sudah tak sabar untuk menyambutku sebagai mahasiswa baru.” Jawab Justin seraya mengedikkan bahu, “Apa kabar Notre Dame?”
                Tayla terkekeh, kemudian melemparkan pandangannya ke kolam renang pribadi milik keluarga Justin sembari memikirkan sesuatu. Sebenarnya saat-saat ini bukanlah saat yang tepat untuk membahas tempat kuliah apa yang akan mereka naungi nanti. Saat ini adalah saat-saat yang tepat bagi mereka untuk menghabiskan waktu sebagai sepasang sahabat—sebelum akhirnya mereka harus berpisah karena Harvard terletak di New York sementara Notre Dame terletak di Indiana.
                “Kau tau bahwa aku membenci perbincangan ini, Justin.” Kata Tayla, lalu mendesah.
                “Kau hanya tidak mau menerima kenyataan bahwa kau harus berpisah denganku,” kata Justin sambil menyengir kuda, “Itu kenyataannya.”
                Tayla memelototinya dengan tatapan sarkastik, lalu menoyor kepala Justin sebelum akhirnya berkata, “Kau juga tidak akan bisa hidup tanpa aku.” Tandasnya, “Aku tak bisa membayangkan hidupmu yang begitu hampa tanpa kehadiran sahabatmu yang paling cantik ini. Selama empat tahun kedepan, tidak akan ada yang bisa membuatmu tertawa lepas. Tidak ada yang akan datang kerumahmu jam tiga pagi hanya untuk sebuah panekuk cokelat. Yaampun—pasti hidupmu luarbiasa hampa tanpa kehadiranku.”
                Justin tergelak seketika, lalu menggelengkan kepalanya saat ia berjalan menuju sisi kolam renang dan mengambil sekotak rokok yang terletak disana.
                “Kau tau aku menyayangimu, Tay,” ucap Justin, lalu menyelipkan sepuntung rokok di bibirnya. “Namun bisakah kau berhenti mengatakan bahwa aku memang tidak bisa hidup tanpamu?”
 “Sudah berapa kali kubilang untuk tidak merokok? Apa gunanya merokok, sih?”
                Justin menyipitkan kedua matanya, lalu berusaha untuk menyalakan pemantik api. “Kenapa kita jadi merubah arah pembicaraan?”
                “Kau yang membuat arah pembicaraan jadi melenceng drastis.” Katanya, “Jangan merokok, aku benci melihatmu merokok.”
                Justin mengangkat kedua alisnya, lalu bersiap untuk membuka mulut ketika ia mendengar ponselnya berdering nyaring. Justin  lantas berjalan menuju sebuah meja yang ada di pinggir kolam, kemudian mengusap ponselnya setelah sebelumnya sempat mengangkat telunjuknya—memberikan tanda untuk Tayla bahwa ia harus diam sejenak.

                “Hallo?” kata Justin, lalu tiga detik kemudian senyumannya merekah. “Scarlett? Oh—hai!”
                Tayla diam-diam memutarkan kedua matanya, langsung mendengus hebat saat Justin tiba-tiba berjalan menjauhinya untuk berbicara dengan Scarlett Montez—mantan flyer dan kapten cheerleader sekolah yang memiliki dada serta bokong yang besar. Justin sudah lama menyukai Scarlett Montez, namun entah mengapa menjelang kelulusan ini mereka baru bisa dekat. Tayla hanya bisa memiringkan senyumnya ketika suatu kali Scarlett diboyong Justin ke markas mereka, dan menghabiskan waktu di markas yang tak lain dan tak bukan adalah taman kesayangan mereka dengan bermanja-manjaan bersama Justin.
                Kalau boleh jujur, dari dalam hatinya yang paling dalam, Tayla sama sekali tidak menyukai Scarlett. Bukan karena dia seorang flyer, dan bukan juga karena bokong dan dadanya yang seksi.
                Tapi karena Scarlett sudah berhasil merebut hati Justin sementara ia masih disini, di tempat yang sama dan sama sekali tak bergerak untuk bisa meraih hati Justin yang tak akan pernah terbuka untuknya.

                “Scarlett bilang apa?” tanya Tayla kemudian mendongak sesudah Justin muncul di hadapannya dengan senyuman dan binaran lain di wajahnya.
                “Dia menerimanya, Tayla!”
                Tayla menegang seketika. “Menerima—apa?”
                “Menerima ajakanku untuk pergi ke prom!” kata Justin setengah berteriak, kemudian ia menjerit histeris dan langsung memeluk tubuh Tayla. Rokok itu sudah hilang entah kemana ketika akhirnya ia berteriak, “Akhirnya mimpiku terwujud juga untuk pergi ke prom bersamanya!”
                Tayla merasakan sesuatu yang menohok ulu jantungnya saat Justin merengkuhnya dan mengguncang-guncangkan tubuhnya. Perasaan ini bukan perasaan pertama yang ia rasakan saat ia harus mendengar nama Scarlett terucap dari bibir Justin. Mungkin ini adalah rasa sesak yang ke seribu karena ia harus memendam perasaan itu. Perasaan cinta, yang entah bagaimana caranya bisa menelusup dan hadir diantara persahabatan mereka.
                “Dan sekarang ia mengajakku untuk pergi ke bioskop. Aku akan bersiap-siap sekarang, karena aku berjanji untuk menjemputnya satu jam lagi.” Sambung Justin ketika ia melepaskan pelukan Tayla.
                Tayla memiringkan senyumnya, lalu mengangguk satu kali. “You better be ready.”
                “I know,” kata Justin, “Kau tidak apa-apa jika harus pulang sendiri ke rumah?”
                “I’ll be fine.” sahut Tayla dengan suara tertahan, “Aku bisa jalan kaki.”
                Justin menarik bibirnya, lalu mengacak rambut Tayla asal-asalan sebelum akhirnya berdiri dan beranjak meninggalkan Tayla.
                “Dan oh—Tayla, kita ke markas, ya, nanti malam? Hitung-hitung untuk  bercerita tentang sesi menontonku dengan Scarlett. Boleh, kan?”
                Tayla mengangguk dua kali, lalu tersenyum mantap. “Of course.”
                “Perfect!” katanya, “I’ll be there at 7! See you, then!”
                Tayla mengangguk sekali lagi, lalu mulai memandangi punggung Justin yang makin lama makin menjauh sebelum akhirnya menghilang di tikungan sebuah pilar. Tayla mendesah, lalu mulai merasakan rasa itu menyebar lagi di dadanya. Perasaan berkecamuk—orang-orang menyebutnya rasa cemburu, yang selalu saja hadir jika ia melihat senyuman itu tersemat di bibir Justin.
                Dan rasanya ia sama sekali tidak bisa menerima bahwa Justin lebih menomorsatukan Scarlett daripada dirinya, yang jelas-jelas sudah berada disini sejak awal. Yang jelas-jelas selalu berada di sisinya dalam semua keadaan yang ditempuh Justin.
Dan yang jelas-jelas mencintainya walaupun Justin sama sekali tak menyadarinya…

                Ia bahagia jika Justin bahagia, namun ia akan lebih bahagia jika dirinyalah alasan dibalik senyuman indah milik Justin. Tapi… melihat Justin bahagia dan tersenyum karena Scarlett kadang-kadang membuatnya pesimis dan memilih untuk mundur. Bukankah semua orang ingin melihat orang yang dicintainya tersenyum karena dirinya sendiri?

-----------
               


Tayla sedang terduduk di kursi taman, sedang asik memilah-milah dan membuka ranselnya yang hampir penuh oleh barang-barang sembari menunggu kedatangan Justin. Ransel itu berisi macam-macam barang penting yang sudah dibawa Tayla kemana-mana. Termasuk salah satu kaset yang berisikan sebuah penuturan dan pengakuan bahwa Tayla mencintai Justin.
                Kaset itu berisikan video amatir yang Tayla rekam sekitar tiga tahun lalu, saat mereka akan menginjakkan kaki di SMA. Video itu hanya berdurasi tiga menit. Menampilkan wajah Tayla yang pias dan berkeringat setelah sebelumnya berlatih ratusan kali di depan cermin. Dan akhirnya dengan segala ketakutan dan sebuah tekad yang bulat, Tayla bisa mengatakan perasaannya pada Justin melalui video itu.
               
                “Hi Justin. It’s Tayla. Yeah—I know its weird, but I have to tell you about this before its too late. Before its really too late.” Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya Tayla menunduk dan menarik nafasnya, lalu mengangkat kepalanya dan menatap lurus kearah kamera.
                “I love you. Kau mungkin akan berkata bahwa aku benar-benar bodoh karena sudah mengatakan ini padamu. Namun aku  juga benar-benar tau bahwa aku memang sudah seharusnya mengatakan ini. Aku tau semua ini terasa salah, dan aku tidak tau sejak kapan perasaan itu mulai muncul dan hadir di tengah-tengah persahabatan kita. Tapi aku yakin bahwa perasaanku ini nyata. Bukan khayalan semata atau sebuah ilusi yang membuatku mendadak buta. Pada kenyataannya aku memang mencintaimu, dan jangan tanyakan apa alasannya karena aku juga tidak tau mengapa.”
                Dan video itu diakhiri dengan sebuah desahan dan senyuman tipis sebelum akhirnya Tayla berkata lagi, “I do really love you.”
               
                Tayla menarik napas panjang, berusaha mengatur napasnya yang mendadak terasa tak karuan begitu memorinya berputar dan jatuh pada video itu. Video yang seharusnya sudah ia berikan pada Justin sejak tiga tahun yang lalu, namun masih tetap membeku di dalam sela ranselnya yang ia sembunyikan rapat-rapat. Tayla sudah berusaha keras untuk memberikan video itu pada Justin pada waktu-waktu yang tepat, namun Tayla selalu gagal dan tak pernah mau mengumpulkan keberanian untuk memberikannya pada Justin.

                Tayla tau semua ini salah. Tayla tau bahwa semua ini seharusnya tak pernah terjadi. Dan ia paham betul bahwa mencintai Justin bukanlah sebuah pilihan yang tepat jika mengingat Justin adalah sahabat terbaiknya. Sahabat yang sudah menemaninya selama empat belas tahun terakhir, seorang sahabat yang tak akan pernah menjadi kekasihnya…
               
                “Hi Tayla!”
                Tayla hampir meloncat dan melemparkan kaset yang ada di tangannya ketika suara itu menyeruak di sebelahnya, menampilkan Justin yang tampak terengah-engah dan langsung duduk di sebelahnya. Tayla menarik napas dalam-dalam, lalu segera memasukkan video itu ke dalam ranselnya—satu-satunya benda yang bisa ia raih dalam jengkalan jari.
                “Are you okay, Tay?
                Tayla meneguk ludah. “I’m absolutely fine.”
                Justin mengangguk, lalu tanpa menyimpan rasa curiga secuilpun, Justin langsung tersenyum lebar pada Tayla. “I kissed her.”
                Tayla mendadak membelalakkan matanya, hampir tersedak oleh air liurnya sendiri. “You—what?!”
                “Yeah—aku menciumnya. Tepat di depan halaman sebelum dia memasuki rumah. Dan itu… French kiss. Geez, Tayla! Dia benar-benar pencium yang handal!”
                Tayla mengerjapkan mata, merasakan sesuatu telah berdiri hebat di sekitar tengkuknya, bereaksi seperti sengatan listrik ketika jantungnya seakan-akan memacu darah dua kali lebih cepat daripada biasanya. Dadanya seakan-akan menyempit, bergelenyar dan membuatnya kesulitan bernapas, namun bibirnya tetap berusaha untuk menyunggingkan senyuman tipis untuk Justin.
                “Congratulation,” kata Tayla, suaranya benar-benar terjepit sehingga terdengar seperti bisikan lirih. “Kau memang pantas mendapatkan ciuman itu.”
                “Haha! I know.” Kata Justin, lalu berdalih dan memandangi langit di luar sana yang tampak gelap dan ditaburi bintang-bintang. “Ini bukan ciuman pertamaku. Tapi entah mengapa aku merasa bahwa dia benar-benar mencintaiku, Tay.”
                Tayla menggigit bibir bawahnya, berusaha mati-matian menahan setitik air mata yang bermuara di sudut matanya. “Dia pasti menciummu dengan panas.” 
                “Emh—dia memang panas.” Katanya, lalu tertawa kecil. “Sekali-kali kau harus mencium seorang pria, Tay. Kau pasti akan merasa bahwa duniamu jungkir balik tidak karuan. Ciumlah Freddie atau Chris, aku yakin mereka ingin menciummu juga.”
                Tayla berusaha untuk tertawa saat Justin memandangnya dengan tatapan jenaka. Namun yang bisa dilakukannya hanya tersenyum masam, lalu mati-matian menyembunyikan matanya yang berair untuk tidak menetes. Ia memang belum pernah mencium pria sebelumnya, karena satu-satunya pria yang ingin diciumnya hanyalah Justin. Hanya Justin seorang.
                “Omong-omong soal Scarlett, aku juga ingin bilang padamu bahwa aku sudah menyewa limosin untuk pergi ke prom,” kata Justin, lalu beranjak dari kursinya dan duduk di rerumputan taman—yang dilanjutkan dengan tiduran seenaknya disana.
                Tayla mengikuti kegiatannya, berbaring persis di sebelah Justin. “Kedengarannya menyenangkan.” Katanya, sedikit bersyukur karena sejumput air mata yang ada di sudut matanya sudah menyusut.
                “Kedengarannya lebih dari menyenangkan,” kata Justin, lalu mengambil sepuntung rokok dari saku kemejanya dan menyalakannya dengan pemantik api. Tayla memutarkan kedua bola matanya keatas, lalu mengambil puntung rokok itu dan mematikannya di rumput yang segar.
                “Hey, apa-apaan?!” kata Justin protes.
                “Aku benci melihatmu merokok.”
                “Oh—come on, Tay!”
                “Apa? Aku sudah bilang padamu untuk berhenti merokok, kan? Merokok itu sama sekali tidak berguna. Aku benci melihatmu merokok.”
                Justin mengernyit, lalu mendesah ringan. “Kau daridulu selalu seperti ini. Kau lebih terdengar seperti ibuku, kau tau? Padahal ibuku juga tidak terlalu mempermasalahkannya.”
                Kali ini Tayla tersenyum. “Aku hanya ingin yang terbaik untukmu.”
                “Oh. Whatever.”

                Dan kemudian hening. Yang terdengar hanyalah suara deru mobil yang ada di kejauhan, lalu suara jangkrik yang mengikik bersautan. Kedua sahabat itu memandang keatas, ke sebuah langit malam yang bertaburan bintang dengan bibir yang saling mengatup rapat. Mereka daridulu memang sering melakukan hal ini—memandangi langit malam di markas kesayangan. Dan entah mengapa, walaupun mereka memang sering bertengkar untuk hal-hal yang kecil, mereka akan selalu berbaikan dalam waktu yang bisa dibilang berdekatan.
                “Justin?”
                “Mm.”
                “Kau masih ingat janji persahabatan kita beberapa tahun yang lalu disini?”
                Perkataan Tayla membuat Justin menoleh, lalu segera menatapnya yang saat ini masih memfokuskan pandangan ke langit yang gelap. “Janji bahwa kita akan selalu bersama selamanya? Janji bahwa kita akan menaklukkan dunia dan saling menjaga apapun kondisinya? Juga janji bahwa kita tak akan pernah jatuh cinta pada akhirnya?”
                Tayla ikut-ikutan menoleh, lalu mengangguk samar. “Kupikir kau sudah melupakannya.”
                “Aku tidak mungkin melupakan janji persahabatan kita.”
                Tayla tersenyum, lalu meletakkan kepalanya di pundak Justin sementara matanya menerawang jauh ke langit yang tak berujung. “Selamanya akan jadi milik kita, bukan?”
                Tayla bisa mendengarnya terkekeh kecil, dan tanpa melihatpun, ia juga tau bahwa saat ini Justin sedang menyematkan sebuah senyuman. “Ya. Selamanya akan jadi milik kita.” Katanya.
                Tayla tersenyum, lalu merasakan bahwa ada sesuatu yang saat ini sedang menyelimuti tangannya. Itu tangan Justin. Tangan Justin sedang menggenggam tangannya, dan meremasnya dengan lembut. Kalau Tayla bisa, rasanya ia ingin suasana ini membeku begitu saja—membiarkan kepalanya terkulai bebas di pundak Justin, membiarkan tangannya di genggam secara gamblang olehnya…
 Tayla tersenyum kecil, lantas menutup kedua matanya, mengubur hidungnya di pundak Justin, membuatnya bisa mencium aromanya yang lembut.

 Kau tidak tau bahwa aku sudah mengingkari janji itu, Justin. Ya, karena pada akhirnya aku jatuh cinta padamu.
               
                Tayla tau betul bahwa selamanya ia tidak bisa memiliki Justin. Namun dengan cara seperti ini… ia yakin bahwa semuanya akan berjalan dengan baik-baik saja. Dan ia juga yakin—yakin seratus persen, bahwa selamanya Justin akan tetap menjadi miliknya.



---------
                Pesta dansa SMA Saint Regina tahun ini memang benar-benar megah dan meriah.
                Mengusung tema red carpet, semua siswa tampak tampil dengan anggun dan menawan. Hampir semua siswa menggandeng pasangan mereka masing-masing, dan juga menyewa sebuah limosin untuk acara yang hanya bisa dirasakan sekali seumur hidup itu. Tayla datang bersama Adam Wiskosnov—salah satu temannya yang berdarah Rusia karena kebetulan Adam  juga tidak bisa menemukan teman kencannya. Sementara Justin datang bersama Scarlett, menggunakan limosin, dan  mereka berdua benar-benar terlihat seperti selebriti sungguhan saat menjejakkan kaki di red carpet.
                Tayla hanya mengenakan blus gaya vintage warna biru muda yang dibungkus dengan cardigan warna biru tua, juga tatanan rambut yang diikat sederhana. Sedangkan Scarlett—ia tampil dengan sepatu hak tinggi keluaran baru dari Louis Vuitton, yang dipadupadankan dengan gaun mewah rancangan Sherri Hill. Ia memang benar-benar seorang selebriti—paling tidak, untuk malam ini saja. Tayla jadi ingat pertemuan memalukannya beberapa hari lalu dengan Scarlett di salah satu mall di pusat kota Wisconsin. Tayla yang saat itu sedang membuka-buka isi ranselnya tiba-tiba saja harus menabrak seseorang karena tidak melihat ke depan—dan orang itu adalah Scarlett. Tadinya ia memang sedang mengaduk habis isi tasnya karena tidak bisa menemukan ponselnya yang kala itu berbunyi nyaring. Namun sesaat setelah ia menabrak Scarlett, jadilah seluruh barangnya tercecer di lantai.
                “Maaf,” kata Tayla waktu itu, tangannya dengan cekatan mengambil beberapa barang yang tercecer.
                “It’s okay.”  Scarlett menjawab, lalu berusaha membantu Tayla memunguti barang-barangnya.
                Mereka tidak banyak berbicara kala itu, karena Tayla tau bahwa sebenarnya Scarlett tidak terlalu suka padanya—hanya karena ia adalah sahabat Justin. Namun setelah selesai memasukkan barang-barang Tayla ke dalam ransel, Scarlett sempat mengangguk kecil dan Tayla membalasnya dengan ucapan terimakasih yang bertubi-tubi. 

                Dan sekarang, Tayla bisa melihat jelas bahwa Scarlett tengah berada di lantai dansa bersama Justin. Mereka berdansa sambil tertawa lepas—dengan kedua tangan Justin yang dilingkarkan di pinggangnya dan terkadang turun nakal sampai bokongnya. Tayla mendengus, lalu menoleh dan menatap kearah Adam yang saat ini tengah membaca salah satu novel karya John C. Maxwell. Tayla tau persis bahwa Adam tidak akan pernah mau memboyongnya ke lantai dansa dan mengajaknya menari disana. Tayla sudah cukup beruntung karena Adam mau menyewa mobil Volvo keluaran tahun 1979 hanya untuk menjemputnya malam ini.  Dan ia juga cukup beruntung bahwa akhirnya ada satu pria yang bisa diajaknya ke prom, walaupun orang itu adalah kutu buku yang jelek layaknya Adam Wiskosnov sekalipun.

                “SAATNYA PENGUMUMAN UNTUK RAJA DAN RATU PROM!”
                Tiba-tiba saja musik berhenti mengalun, digantikan oleh suara Agatha Gerald—salah satu siswa junior yang menjadi pembawa acara pada malam hari ini. Tayla melayangkan pandangannya lagi pada Justin dan Scarlett yang secara tiba-tiba melepaskan kaitan tubuh mereka, dan langsung menghadap kearah panggung yang ditata sedemikian gemerlap. Tanpa harus melihat kearah Adam yang masih membaca bukupun, Tayla sudah berdiri dan memboyong dirinya sendiri untuk ikut-ikutan maju dan menjadi saksi resmi atas siapa raja dan ratu prom tahun ini. Dalam hati, ia berseru sebegitu nyaring serta yakin seratus persen bahwa Raja Prom tahun ini adalah sahabatnya—Justin Drew Bieber, yang selama tiga tahun berturut-turut menjabat sebagai kapten basket sekolah dan digandrungi gadis-gadis. Tayla yakin semua gadis telah menuliskan nama Justin untuk dinobatkan sebagai Raja Prom malam ini. Namun Tayla masih ambigu akan siapa yang akan dinobatkan sebagai Ratu Prom. Ia sama sekali tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi pasangan Justin karena ia selalu berharap bahwa dialah yang akan mendampinginya. Namun semua itu mustahil, mengingat bahwa Tayla bukanlah siswa populer dan bukan kapten cheerleader yang berdada montok dan berbokong seksi. Ia hanya bersahabat dengan pria tampan yang menjadi sorotan seantero sekolah, hingga namanya pun kerap kali terangkat bila hal itu mengungkit nama Justin.

                “Kalian semua sudah menuliskan dan memilih siapa yang pantas menjadi Raja dan Ratu Prom malam ini. Dan setelah menghitung banyaknya suara, kami telah memutuskan siapa yang berhak menjadi Raja dan Ratu Prom!” kata Agatha penuh semangat, dan semua siswa sedetik kemudian bersorak, tak sabar menunggu siapa yang akan menjadi Raja dan Ratu Prom.
                “AND THE KING OF TONIGHT’S PROM IS…..” Agatha sengaja menggantungkan perkataannya ketika semua orang mengatupkan bibirnya. “THE ONE AND ONLY, JUSTIN BIEBER!”
                Semua orang bersorak dan memekikkan nama Justin, tak urung Tayla yang ikut-ikutan menyerukan namanya. Justin yang tampak begitu sempurna dalam balutan tuksedo lantas maju keatas panggung, dan tersenyum bagi siapa saja yang dilihatnya—termasuk Tayla, Justin sempat mengedipkan satu mata kearahnya.
                “Kira-kira, siapa ya yang akan mendampingi Justin?” Agatha angkat bicara lagi, sukses membuat kerumunan mendadak diam. “The queen of tonight’s prom is…,” Agatha membuka amplop, lalu senyuman lebarnya merekah begitu saja. “SCARLETT NIC MONTEZ!”
                Tayla melenguh.
Benar-benar pasangan yang cocok, batinnya sengit. Tayla agak sedikit menyunggingkan senyum kecut ketika Scarlett naik keatas panggung, dan ia langsung memeluk Justin saat sudah benar-benar berada diatasnya.
 Kapten basket dan kapten cheerleader, dengus Tayla, lalu memutarkan kedua bola matanya dan kembali melanjutkan, seperti tidak ada wanita yang lebih dari Scarlett saja.
                “Dan marilah kita berikan waktu bagi mereka untuk berdansa bersama di lantai dansa! Ingat, ya! Hanya boleh mereka yang berdansa!”
                Tayla segera berjalan menjauh ketika kerumunan membelah, menyisakan Scarlett dan Justin yang sudah dimahkotai oleh mahkota plastik di lantai dansa. Ia agak sedikit menjinjit saat beberapa orang yang kelewat bongsor menutupi pandangannya. Dan ketika musik pelan nun romantis tengah mengalun, Tayla merasa bahwa saat itu juga hatinya berdenyut ngilu. Disana ia melihat Scarlett dan Justin, berdansa dengan penuh kemesraan dan keintiman yang nyata di lantai dansa. Justin memegangi pinggul Scarlett, lalu menggeranyangi punggungnya ketika Scarlett meletakkan kepalanya di bahu Justin. Tayla merasa hatinya mencelos, seakan-akan hatinya kebas dalam sekali libas.

Ia ingin berada di lantai dansa itu, bersama Justin yang mencintainya.

Tayla berusaha mengatur napasnya yang naik turun tidak karuan, seakan-akan pundi-pundi parunya menyempit dan tidak dapat menghirup oksigen lagi. Saat musik yang mengiringi Justin dan Scarlett hampir berhenti mengalun, Tayla bisa merasakan bahwa ia memegangi dadanya sendiri karena pada saat itu juga Justin mencium Scarlett, tepat di bibir, tepat di depan khalayak banyak. Semua orang bersorak, bahagia karena melihat dua anak populer yang mereka pilih sebagai Raja dan Ratu Prom sedang berciuman layaknya pecinta yang dimabuk asmara.
                Tayla menggigit bibirnya, lalu segera saja pergi darisana sebelum kesakitannya bertambah banyak dan makin menjadi-jadi. Ia sudah tidak sanggup melihat Justin dan Scarlett. Ia tidak sanggup merelakan Justin jatuh ke tangan Scarlett. Ia tidak sanggup jika sahabatnya yang dicintai akan meninggalkannya untuk gadis lain...
                Ia tidak bisa merelakan Justin…

                “Attention, senior!” suara Agatha Gerald kembali terdengar saat Tayla sudah ada di sebelah Adam yang masih asyik membaca, lalu menegak minuman soda berwarna kuning kemerahan yang disediakan. Ia berusaha mabuk dan lupa akan kejadian di lantai dansa sepuluh menit yang lalu, padahal minuman itu sama sekali tidak beralkohol. Suara gemuruh siswa-siswa akibat ciuman panas Justin dan Scarlett terpaksa berhenti ketika Agatha mengambil mikrofon dan kembali mengambil alih.
                “Kita punya tayangan menarik dari sang Ratu Prom. Ternyata Scarlett sudah repot-repot mau membuat sebuah video perpisahan untuk kita semua!”
                Kening Tayla berkerut seiring dengan alis semua siswa yang melengkung naik. Mereka semua tau betul bahwa Scarlett sama sekali tidak bisa mengoperasikan komputer dengan baik, apalagi sampai bisa membuat sebuah video yang layak dipertontonkan. Video perpisahan yang lumayan susah dibuat tentunya patut dipertanyakan.
                “Silakan menyaksikaaaaan!” kata Agatha ceria, lalu semua mata tertuju pada layar proyeksi yang ada di sebelah panggung, termasuk mata Justin, Tayla, dan tentunya mata kehijauan milik Scarlett.

                Sempat ada jeda beberapa detik sebelum video itu berjalan dan seseorang dengan wajah yang pias dan luarbiasa pucat mengisi layar proyeksi yang lebar.
                Tayla membulatkan kedua matanya lebar-lebar. Ya Tuhan. Ia… ia tau persis dimana video ini pernah diambil… Ia… tau persis siapa yang akhirnya berbicara dalam video amatir tersebut. Dan video itu jelas-jelas bukan sebuah video perpisahan yang dibuat oleh Scarlett.

                “Hi Justin. It’s Tayla. Yeah—I know its weird, but I have to tell you about this before its too late. Before its really too late.”    
Tayla merasa bahwa saat itu juga setetes keringat tengah mengaliri leher hingga ke punggungnya, hingga semuanya terasa bagai sengatan listrik saat semua orang berbisik dan tak sedikit pula yang melongo saat melihatnya. Video itu… adalah video amatir yang selalu tersimpan di dalam ranselnya… Video itu adalah video yang menyatakan perasaannya tentang Justin…

“I love you. Kau mungkin akan berkata bahwa aku benar-benar bodoh karena sudah mengatakan ini padamu. Namun aku  juga benar-benar tau bahwa aku memang sudah seharusnya mengatakan ini. Aku tau semua ini terasa salah, dan aku tidak tau sejak kapan perasaan itu mulai muncul dan hadir di tengah-tengah persahabatan kita. Tapi aku yakin bahwa perasaanku ini nyata. Bukan khayalan semata atau sebuah ilusi yang membuatku mendadak buta. Pada kenyataannya aku memang mencintaimu, dan jangan tanyakan apa alasannya karena aku juga tidak tau mengapa.”
               
Semua orang terperangah, tak terkecuali Justin yang saat ini masih bergandengan dengan erat bersama Scarlett di lantai dansa. Tayla yakin saat ini semua orang tengah memandangnya, membisikkan sesuatu yang buruk dengan lawan bicara yang lain. Tayla merasa bahwa tiba-tiba matanya panas, dan sudut matanya sudah bermuara dan sudah bersiap untuk mengeluarkan setitik air mata ketika video itu akhirnya diakhiri dengan perkataan, “I do really love you.”
Dan kemudian semuanya gelap.

Setelah itu, suara benar-benar hampir tidak terdengar kecuali bunyi bisikkan superlirih dari berbagai sumber. Mereka semua sedang membahas dan membicarakan satu hal sesudah selesai menyaksikan video itu; Tayla Victory Mason, jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.
               
                Tayla menggigit bibir bawahnya, sama sekali tidak bisa berbohong bahwa hatinya kali ini benar-benar terasa perih. Bagaimana video itu bisa ada disana? Bagaimana video itu bisa ada di acara prom ini? Dan bagaimana caranya video itu bisa keluar dari dalam ranselnya yang selalu ia tutup rapat-rapat? Pertanyaan itu memburunya bertubi-tubi, hingga akhirnya kerumunan membelah dan menciptakan sebuah ruang bagi Justin sehingga ia bisa melihat Tayla yang saat ini tengah terisak. Tayla menatap Justin yang menatapnya dengan tatapan luarbiasa tidak percaya, lalu pandangannya jatuh pada Scarlett dengan senyuman licik yang tersemat disana. Dan pada saat itu pulalah Tayla menemukan jawabannya. Dan pada saat itu pulalah Tayla sadar bahwa selama ini dirinya dijebak… Dijebak oleh seorang Scarlett Montez yang mencuri kasetnya saat mereka bertabrakan di mall tempo hari.
                Tayla merasa hatinya kebas. Rahasianya sudah terbongkar… Ia sudah mengingkari janjinya bersama Justin…

                Justin yang ada di lantai dansa lantas menatap Tayla dengan sebuah siratan yang selama ini tak pernah ditunjukkannya. Tayla tengah menangis… pundaknya naik turun, dan hal itu sukses membuat Justin ingin memeluknya saat itu juga. Tapi ia tidak melakukannya.
 Ia hanya berdiam diri disana, memandangi Tayla dengan tatapan yang sama seperti orang banyak. Ia hanya berdiam diri disana, menyaksikan sahabatnya sedang mengalami sebuah kejadian yang membuatnya hancur, hanya karena ia jatuh cinta padanya.

                Justin tidak pernah menyangka bahwa persahabatan yang sudah dibinanya bersama Tayla selama lebih dari sepuluh tahun harus diakhiri dengan Tayla yang pada akhirnya jatuh cinta padanya. Ia sama sekali tidak tau bahwa Tayla mencintainya… Bahwa Tayla sudah menyimpan perasaan itu selama bertahun-tahun… Bahwa Tayla mengingkari janjinya, karena pada akhirnya ia jatuh cinta pada Justin.

                Justin masih memandangi Tayla, tak bergerak dan tak bergeming ketika gadis itu menatapnya dan menggeleng kearahnya. Ia tampak hancur… Justin menggigit bibir bawahnya, lalu merasa bahwa jantungnya berdenyut tiga kali lebih cepat dari biasanya, dan ada sebuah rasa sakit yang bergelenyar aneh di dadanya.
Lalu kembali, Justin mengingatkan dirinya sendiri dalam hati,
 Tayla mencintaiku….

                Justin mendadak terkesiap kaget saat gadis itu tiba-tiba saja menghapus air mata yang jatuh di kedua celah pipinya, tak mempedulikan ratusan pasang mata yang memandangnya dan membicarakannya mati-matian. Tayla akhirnya menyerah dan memutuskan untuk mundur, memutuskan untuk berbalik, dan kemudian berlari keluar dari ruangan yang langsung sunyi setelah Tayla menghilang dari pandangan semua orang.
                Justin menggigit bibir bawahnya sekali lagi, sama sekali tidak berusaha untuk mengejar dan memanggil nama Tayla. Ia justru membiarkannya pergi.

                Dan saat itu pulalah Justin sadar, bahwa detik itu juga ia telah kehilangan separuh hidupnya. Bahwa detik itu juga ia telah kehilangan seorang sahabat yang paling disayanginya. Bahwa detik itu juga ia telah kehilangan Tayla..., sahabatnya yang selalu ada untuknya.
                Justin menunduk, lalu merasakan bahwa hatinya ngilu saat kejadian beberapa minggu lalu kembali terekam ulang di benaknya. Saat ia dan Tayla berada di taman, memandangi langit yang tampak gelap dan tertidur hingga pagi menjelang. Suara Tayla bergema dalam otaknya, selalu jatuh bertubi-tubi dalam otaknya ketika ia melepaskan genggaman Scarlett dan memutuskan untuk meninggalkan pesta.  Suara Tayla masih ada dan akan terus ada dalam benak Justin ketika ia sudah keluar dari ruangan, merasakan bahwa ia menangis untuk dirinya sendiri….

                “Selamanya akan jadi milik kita, bukan?                                                 “
                “Ya. Selamanya akan jadi milik kita.”
               


------
Wisconsin, Januari 2013
                Justin merasa ngilu saat memorinya berhenti berputar pada malam pesta dansa tujuh tahun lalu, saat ia tau bahwa sahabatnya sendiri justru mencintainya. Ia ingat betul bahwa saat itu dirinya menangis, merasakan kesakitan yang luarbiasa karena ia harus menyakiti orang yang dicintainya. Bahwa ia harus menyakiti Tayla, yang sampai sekarang sama sekali tidak ada kabarnya.
                Sesudah malam pesta dansa, Tayla tidak pernah terlihat lagi. Justin sudah berusaha menghubunginya dan datang ke rumahnya, namun Tayla tidak pernah ada sampai hari kelulusan mereka dari SMA Saint Regina diadakan. Tayla melewatkan hari kelulusannya, dan ia juga baru mendengar kabar bahwa Tayla melewatkan kesempatannya untuk bersekolah di Notre Dame, lebih memilih untuk pindah ke Roma dan menjadi sukarelawan disana.
                Justin merasa dunianya hancur saat itu, karena ia telah kehilangan orang yang paling berharga dari hidupnya. Justin bahkan sempat berpikir bahwa Tayla sekarang membencinya, sehingga tak mau lagi melihat wajahnya barang satu kali. Hidupnya terasa hampa tanpa Tayla, tanpa lelucon dan celetukannya yang menggelitik, tanpa nasihatnya yang galak untuk berhenti merokok, dan untuk kecupan-kecupan kecil di pipinya ketika ia sedang merajuk…

                Justin memejamkan mata, lalu membayangkan sosok itu dalam bayangan imajiner di otaknya. Rupanya sudah tujuh tahun semenjak gadis itu pergi dari kehidupannya. Rupanya sudah tujuh tahun ia merasa dunianya kosong dan hampa. Rupanya sudah tujuh tahun ia kehilangan separuh hatinya. Dan rupanya butuh beberapa tahun baginya untuk menyadari bahwa dirinya sendiri justru lebih mencintai Tayla.
                Justin tidak tau kapan tepatnya ketika ia menyadari bahwa sebenarnya ia tidak bisa melanjutkan hidup tanpa Tayla. Berada di tengah hiruk pikuk kota New York justru membuatnya yakin bahwa sedari dulu ia memang mencintai Tayla, bahwa yang selalu ada di hatinya hanya Tayla. Dan sekarang, ia kembali lagi ke kota ini. Ia kembali lagi ke kota yang menyimpan seluruh kenangannya bersama Tayla. Ia kembali lagi dan duduk di markasnya, merasakan bahwa kursi sempit di taman ini sudah usang dengan cat yang hampir mengelupas ngeri.

                Ya Tuhan. Betapa berharapnya Justin untuk bisa melihat Tayla walaupun hanya sekali…


                “Kau membuang puntung rokokmu.”
                Suara itu berhasil membuat Justin mendongak, menemukan seorang wanita yang sedang berdiri didekatnya, tengah menyematkan sebuah senyuman manis untuknya.
                “Excuse me?”
                “Kau membuang puntung rokokmu. Berhasil berhenti jadi perokok, huh?”
                Justin mengerjapkan matanya. Apakah ia mengenal orang ini?  Wanita ini tampak asing dengan rambut sebahu dan rambut berwarna cokelat terang, dan juga setelan musim dingin yang terlalu gelap. Justin berusaha menatap mata wanita itu ketika wanita itu menyunggingkan senyum. Dan detik itu juga, Justin menegang, merasakan bahwa seluruh tubuhnya benar-benar mati rasa ketika sadar bahwa ia berhasil menemukan wanita itu lagi. Wanita dengan bola mata hijau dan senyuman paling indah dan yang paling dirindukannya.
                “Tayla.” Kata Justin, lebih tepat untuk dirinya sendiri.
                Tayla mengangguk, lalu duduk di sebelah Justin dan kemudian menatapnya. “Jangan merokok lagi. Aku benci melihatmu merokok.”
                Napas Justin naik turun tidak karuan. Gadis itu… ada disini, bagaimana caranya? Banyak yang ingin disampaikannya pada Tayla, banyak yang ingin dikatakannya untuk Tayla karena sudah tujuh tahun tidak bertemu. Tapi mulut Justin seakan terkunci, menutup rapat-rapat ketika menyadari bahwa gadis itu memang benar-benar gadisnya. Bagaimana ia bisa berada disini?
                “Rupanya sudah tujuh tahun, ya?” kata Tayla, lalu kembali menatap Justin, “Kau banyak berubah.”
                Justin akhirnya tersenyum. “Dan kau juga.”  Katanya, lalu ikut memandangi Tayla yang terlihat lebih dewasa dengan tatanan rambut sebahu dan wajah yang luarbiasa cantik.
                “Aku tidak pernah menyangka jika aku harus melewatkan masa mudaku tanpamu, Mr. Bieber. Aku jadi tidak sempat melihatmu yang berusaha mati-matian menumbuhkan kumis.”
                Justin membuka mulutnya, lalu bibirnya menyungging sempurna. Hatinya merasa lega sekaligus bahagia yang tiada tara. Ia bahagia bisa melihat Tayla berada di sampingnya, lagi.
                “Tayla, soal tujuh tahun lalu di malam pesta dansa—aku benar benar minta ma—“
                “Sssssh.” Tiba-tiba Tayla memotong, meletakkan telunjuknya di bibir Justin. “Lupakan saja, ya?”
                Justin merasa tubuhnya beku saat tiba-tiba saja Tayla menyentuhnya, menghentikan perkataannya sekaligus menghentikan detak jantungnya.

                “Kau tidak perlu berkata apa-apa,” kata Tayla, lalu mendekat kearah Justin. “Aku masih sahabatmu.”

                Justin tersenyum kecil ketika Tayla melepaskan telunjuknya di bibir Justin, lalu tangannya berpindah ke tangan Justin yang ada diatas paha. Tayla mengambil tangan itu, meremasnya dengan lembut—menyalurkan kehangatan tubuhnya pada tubuh Justin. Tayla tidak berkata apa-apa saat dia dengan leluasa meletakkan kepalanya di pundak Justin, membuat Justin yang ada di sebelahnya langsung menegang namun tetap membiarkannya.
                “Aku masih sahabatmu.” Kata Tayla, sedikit berbisik dan tersenyum ketika akhirnya ia melanjutkan, “Selamanya akan jadi milik kita, bukan?”
                Justin mengerjapkan mata, lalu merasa bahwa hatinya benar-benar damai ketika Tayla meremas tangannya dan kepalanya terkulai bebas di pundaknya. Semua ini sama seperti dulu—ketika mereka dengan leluasa bersentuhan sebagai sahabat. Ketika mereka masih bisa adu mulut dan bertengkar, namun pada akhirnya menyadari bahwa mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain.

Justin tau persis bahwa semua ini terjadi bukan tanpa alasan. Semua ini diatur oleh Seseorang yang selama ini tak kasat mata, namun tetap mengikuti gerak-geriknya. Tayla hadir disini bukan tanpa alasan. Ia hadir disini karena Seseorang itu menginginkannya untuk bisa bersama Tayla sekali lagi.

                Dan kemudian, Justin tersenyum. Diletakannya kepalanya diatas kepala Tayla, lalu tangannya meremas tangan Tayla ketika ia mengecup puncak kepalanya dan berkata,

                “Ya. Selamanya akan jadi milik kita.”


THE END

Jumat, 26 Juli 2013

You want it? Go for it!

You want it? Go for it.

Sepenggal kata-kata itu udah sering aku dengerin di acara seminar motivasi atau tape-tape dari motivator terkenal punya nyokap. Sempat terbersit beberapa hal yang mungkin terjadi dari semua yang sudah aku dengar mengenai apa yang seharusnya kita kejar untuk meraih mimpi, tapi entah mengapa sampai sekarang aku merasa bahwa semuanya memang benar. Semuanya benar-benar bisa jadi kenyataan.

You can say that everybody has a dream. But you have to admit that not everbody would give up on everything to reach that dreams.

I have a dream, a lot of dreams. Beribu-ribu mimpi itu terus menumpuk di otak dan siap meluncur kapanpun aku mau mewujudkannya. Namun yang ada saat ini hanyalah bahwa aku perlu berusaha keras sebelum mimpi itu bisa menjadi nyata.
Manusia nggak pernah puas, and so do I. Bukankah sikap itu terlalu defensif bila disandangkan dan dikatakan sebagai sesuatu yang ambigu? Aku tau aku tidak pernah puas dengan apa yang sudah kucapai selama ini. Aku masih suka sekali mengeluh dan ingin cepat-cepat mencapai mimpi itu, membuktikan pada mereka semua bahwa aku bisa. Bahwa aku memang bisa melakukannya. Aku bisa melakukan itu semua tanpa cemoohan dan ejekkan mereka yang selalu kuterima. Banyak yang meremehkan apa yang sekarang kupunya, namun aku tau itu semua hanya pacu reguler yang akan menerjangku kapanpun, untuk membuatku jatuh dan akhirnya tidak bisa untuk bangkit lagi.

Aku mau mimpi itu menjadi nyata, dan aku harus berusaha melakukan apapun untuk bisa mewujudkan itu di masa depan. Dan semuanya dimulai dari sekarang.

You want it? Go for it.
Those quote is usual, but it sounds unusual if you keep saying it everyday.  Its a magical when you found yourself wake up in the morning and then you believe that the whole day would be so perfect. Because everyday is the simple tiny step to reach that marvelous big dreams that you've always wanted for all your life :)


Love, Brigita Shela.

Kamis, 11 Juli 2013

THE WAY (Cerbung)

Hi guys! Kembali lagi sama aku. Hahaha. Kali ini bawa cerbung yang sebenarnya udah terbit di majalah sekolah aku. Jadi pemerannya bukan our prince aka Justin Beebur. hahaha. I know sebagian dari kalian pasti belum baca, jadi aku repost deh. Dan as always, copycats is unavailable!!! Think creative for those who want to steal this cerbung. Hahaha. Well--Happy reading ya. :) xx



***

“Aku menenggelamkan pikiranku dan memandanginya dari jauh. Mengaguminya dari  jarak pandang yang tak bisa ia raih. Tanpa senyum. Tanpa sapa.”


-------------

                Pindah ke tempat yang jauh dari tempatku berasal bukanlah sesuatu yang menyenangkan.
Sekolah baru. Teman baru. Suasana baru. Kota baru. Semuanya serba baru dan aku sama sekali tak menyukainya. Kau bisa mengatakan bahwa aku bodoh karena menyesal sudah pindah ke kota kecil benama Springfield di Amerika. Karena aku sama sekali tidak menyukai Amerika dan lebih meyukai kampung halamanku di Prancis. Jauh berbeda dengan adikku—Rebecca—yang tampak senang atas kepindahan kami dan aku tak tau apa alasannya.
                Besok adalah hari yang menegangkan karena aku akan masuk ke SMA Saint Michael untuk yang pertama kalinya. Rasanya sulit menerima bahwa aku masuk di tengah semester, bukan di awal semester. Hal itu membuat perutku mendadak ngilu.
                Ya ampun. Bukankah hari pertama di sekolah selalu menyeramkan? Apalagi ini Amerika. Semuanya kelihatan jauh lebih mengerikan dari apapun. Aku lantas mengigit bagian dalam pipi kananku—salah satu kegiatan yang kulakukan jika aku sedang grogi.
                Well. Aku adalah seorang Regina Persie Woodley. Hal apa sih, yang tak bisa kulakukan? Masuk sekolah baru adalah sebuah hal yang gampang. Sebuah hal sepele yang bisa kulakukan.
                Aku lantas berdecak dalam hati. Ah. Aku pasti bisa melakukannya!


------------
                Dari caranya menatapku, aku tau aku tidak akan pernah menggunakan mobil butut warna merah atau mobil sedan hitam yang lumayan bagus untuk pergi ke sekolah. Ayah sudah pergi beberapa jam yang lalu, dan dia meninggalkan sebuah catatan kecil diatas meja yang berkata bahwa ada kejutan buatku di garasi depan. Pada saat aku dan Rebecca sudah siap untuk pergi ke sekolah, kami sempat menilik garasi depan. Kami seketika kaget saat melihat sebuah sepeda motor butut warna hitam yang nangkring disana. Aku ternganga beberapa kali saking kagetnya, apalagi saat kuncinya masih menggantung pada tempatnya.
                “Gina! Kita harus ke sekolah naik ini? Ya ampun, menggelikan.” kata Becca jijik, sama sekali tak mau melihat sepeda motor butut yang saat ini sedang kuraba.
                Aku merekahkan senyum. Sialan, motor butut ini jauh lebih bagus daripada mobil butut merah dan sedan itu.
                “Kau bercanda?! Ini keren!” kataku.
                “Apanya yang keren, sih? Bayangkan jika aku harus kembali mengikat rambut karena rambutku bisa jadi ijuk saat kena angin. Atau rambutku jadi kusut padahal aku sudah pakai kondisioner dobel tadi pagi agar rambutku bisa kelihatan jatuh sempurna saat diikat. Errrr, apa kau mau kulitmu jadi hitam kena sinar matahari langsung?”
                “Berisik!” aku mendengus saat Becca mengatakan perkataannya dengan sangat cepat, “Nikmati saja. Ini keren dan tidak ada salahnya naik motor. Kau belum pernah, kan?”
                Becca menaikkan satu alis sebelum akhirnya merutuk dan menghentakkan kakinya kesal.
                Aku pernah naik motor. Maksudku, Christian—sahabatku di Prancis—pernah mengajariku mengendarai motor sekali. Tapi motor Christian jauh lebih besar daripada motor ini. Motor Christian begitu besar dan tampak seperi harimau, sedangkan motor ini tampak seperti bebek yang hampir tak berbentuk. Aku lumayan bisa mengendarai motor gede Christian, dan aku yakin menaiki motor ini tak akan jauh lebih sulit.
“Naiklah,” kataku saat aku sudah memasang helm pada kepalaku dan memasangkan helm pada kepala Rebecca. Dia merutuk untuk beberapa kali karena takut kuciran ekor kudanya akan kabur. Setelah membujuknya dan sedikit mengancamnya, akhirnya ia berhasil naik walaupun takut-takut.
 Dan akhirnya, kami meluncur menuju sekolah.
                 
-----------------
                Kelas pertamaku adalah kelas Biologi. Aku sudah meminta jadwal pelajaranku ke guru BP untuk sembilan bulan kedepan. Guru BP itu lantas menunjukkan dimana kelas Biologi berada, dan aku berterimakasih karena kelas masih agak kosong dan sepi. Paling tidak, hanya ada sedikit orang yang menyadari bahwa aku adalah anak baru. Aku sedikit tersenyum ketika mereka menatapku dengan tatapan ragu. Aku tak banyak berpikir hingga akhirnya aku memutuskan untuk duduk di kursi paling belakang. Di pojok belakang sayap kanan. Disana hanya ada seseorang yang tampak asik dengan ponselnya.
                “Apakah tempat ini kosong?”
                Dia mendongak. Dia jelas seorang pria, dan matanya yang sayu tampak menatapku dengan tatapan siaga sebelum akhirnya ia berkata, “Ya.”
                Aku sedikit mengangkat senyum, lalu terduduk disana. Oh. Apa yang harus kulakukan? Membaca buku? Mengeluarkan ponselku? Atau tiduran saja dan menyelonjorkan kakiku ke meja?
                “Kau pasti anak baru itu.”
                Aku mendongak, itu suara cowok bermata kehijauan tadi. “Bagaimana kau bisa tau?”
                “Karena kau jadi gossip heboh di sekolah.”
                Aku mengernyit. “Apa?”
                Dia malah terkekeh, “Kau harus tau bahwa semua orang menggosipkan tentang anak baru dari Prancis sejak seminggu yang lalu.”
                “Oh—“ aku mendesah kikuk. Entah aku harus bersyukur karena aku digossipkan atau aku harus menelan pil pahit karena semua orang tau aku orang Prancis.
                “Siapa namamu, ya? Kalau tidak salah—“
                “Regina.” Kataku sebelum dia menyelesaikan perkataannya.
                “Oh—yeah, Regina. Aku Daniel, senang berkenalan denganmu.”
                Kami kemudian berjabat tangan, dan kami berdua sama-sama tersenyum. Diam-diam aku bersyukur dalam hati, karena paling tidak aku sudah menemukan satu teman yang lumayan baik walaupun tampak berantakan dan ngantuk berat.
                “Bagaimana kau menyadari bahwa aku adalah anak baru dari Prancis itu?” kataku ingin tahu, dan Daniel justru tertawa.
                “Aku tidak pernah melihatmu di kelas ini sebelumnya. Dan karena aksen Prancis-mu masih sangat kental.”
                Aku tersentak. “Benarkah?”
                “Ya,” katanya, “Aksenmu aneh, kau tau? Aksen Prancis yang menyatu dengan aksen Amerika. Unik. Dan jangan mengubah aksen itu karena itu baik untukmu.”
                Aku yakin wajahku memerah sekarang, “Thanks.” kataku singkat.
Aku dan Daniel lalu berbicara tentang obyek ringan, dan dia berjanji bahwa dia akan menemaniku pergi ke kantin pada jam makan siang nanti. Atau aku bisa bolos bersamanya pada jam sosiologi—kebetulan aku satu kelas dengannya. Namun dari semua itu, aku merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. 
                Ya. Semoga saja.


-------------------
                Daniel tidak mengingkari janjinya karena dia memang menemaniku ke kantin saat makan siang. Kami sudah mengambil jatah makan siang kami, dan kami terduduk di salah satu kursi tertutup di pojok kantin. Daniel tampaknya bukan anak populer, dan aku bersyukur karena aku tidak ingin bergaul dengan siswa populer.
                “Makan siang kali ini payah,” ujar Daniel, lalu menyedot jus jambu dari gelasnya.
                 “Tidak juga. Paling tidak saladnya enak.” Kami berdua lantas terkekeh hebat.
Aku mendesah, lalu memutuskan untuk menyelesaikan makanku. Aku tidak lapar, dan untuk itu aku melayangkan pandanganku kearah lain. Kearah segerombolan anak yang tampak berkumpul di meja tengah kantin sambil tertawa lepas. Ada beberapa perempuan dengan pakaian cheers, dan beberapa lelaki yang badannya sekekar pemain futbol.
Mereka pasti anak populer.
Sementara Daniel melanjutkan makan saladnya, aku duduk terpaku dan pandanganku melayang-layang di sekitar kantin yang cukup luas ini. Kantin ini bersih, dan makan siangnya lumayan enak walaupun keju kambing yang disiapkan agak sedikit lembek. Tapi untung saja salad wortelnya enak, dan jus jambu itu juga lumayan manis.
Dan ketika pandanganku tertuju pada salah satu meja kantin yang terletak di dekat pastry, aku hampir sesak nafas. Dia adalah cowok tampan yang kutemui di depan sekolah tadi pagi. Tapi sedihnya, dia tidak sendirian. Dia bersama dengan beberapa wanita dan beberapa pria yang juga sama-sama tertawa seperti anak populer tadi.
“Daniel, kalau mereka…maksudku yang itu. Mereka itu siapa?” aku menunjuk tempat duduk mereka dan Daniel langsung mendesah.
“Mereka golongan jenius.”
Aku sedikit tersentak. “Benarkah?”
“Ya. Mereka termasuk golongan populer sebenarnya. Namun mereka juga masuk golongan jenius karena kebanyakan dari mereka adalah anggota organisasi sekolah.”
Aku mengangguk, lalu meneguk ludahku sendiri. Aku akan menanyai Daniel tentang cowok itu. Aku bisa mati penasaran jika tidak tau siapa namanya.
“Kalau pria yang itu—“ aku menunjuknya dengan jari telunjukku, “Yang sedang tertawa itu. Itu siapa?”
“Oh—“ Daniel mengerutkan keningnya, “Yang rambut hitam itu? Dia Troy. Troy McCartney.”
Aku bersorak dalam hati. Namanya Troy. Troy! Nama itu cocok buatnya dengan segala ketampanan dan kemahaseksian bibirnya yang penuh dan yang tampak lembut itu.
“Oh, Troy..” aku berdesis, sukses membuat Daniel menyenggol lenganku dan mengerling jahil kearahku.
“Kau menyukainya, ya? Duh, Regina. Aku sarankan jangan. Kau bisa kalah telak. Troy adalah Ketua OSIS di sekolah ini.”
Aku terperangah seketika. “Ketua OSIS?”
“Ya, sejak dua tahun yang lalu. Dia itu kesayangan guru-guru, kau tau? Dan kabarnya, adiknya yang masih di kelas junior juga dicalonkan jadi Ketua OSIS selepas Troy lulus nanti.”
Aku meneguk ludahku yang terasa pahit dan terasa janggal saat mencapai kerongkongan. Sialan. Ketua OSIS?! Oh. yang benar saja.
Aku memutuskan untuk mengangguk dan tidak menanyai Daniel lagi, takut kalau Daniel akan menginterogasiku dan berprasangka bahwa aku menyukai Troy. Daniel mengambil jatah keju kambingku, dan dia melahapnya dalam balutan roti kering yang dia bawa dari rumah. Aku masih memandangi Troy diam-diam. Dan untungnya dia tidak menyadari bahwa sedari tadi ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
Dia tampak manis saat menyuapkan sesendok salad ke mulutnya. Dan ia tampak seksi saat bibirnya mengerucut untuk menyedot sedotan. Dia juga tampak bahagia dengan kehadiran cewek-cewek cantik walaupun kutau mereka bukan anak-anak cheers seperti anak-anak populer.
Aku mengerjap, lalu menyedot jus jambuku dan menatapnya lagi sambil diam-diam tersipu malu. Aku melakukannya beberapa kali, selalu begitu dan seterusnya. Aku menenggelamkan pikiranku dan memandanginya dari jauh. Mengaguminya dari  jarak pandang yang tak bisa ia raih. Tanpa senyum. Tanpa sapa.
Dan kurasa, hanya boleh aku saja yang mengetahuinya.


----------------
Saat alarmku meraung pada pukul enam, aku tergoda untuk melemparkannya ke dinding. Aku kena pusing akut kalau dilihat dari otot-otot tubuhku yang mulai melemah dan juga kepalaku yang pening berat. Sepertinya otakku beku, rasanya seperti ditusuki oleh peniti. Sambil melirik kearah alarm sialan itu, aku menarik selimut putih sampai keatas kepalaku, berusaha meredam suara alarm yang memekakan telinga.
Otakku sudah terjaga. Kalau sudah bangun, aku susah untuk tidur lagi. Untuk itu, aku punya dua pilihan saat ini.
Yang pertama, aku bisa mematikan alarm itu dan kembali meringkuk di balik selimut, berusaha untuk tidur lagi walaupun aku tau itu sulit.
Yang kedua, aku bisa saja mematikan alarm itu dan merangkak keluar dari selimut selembut beludru ini, lalu keluar untuk menghirup udara segar. 
Aku mengigit bagian dalam bibir bawahku, kemudian mematikan alarm sialan itu dengan tangan mengepal. Aku memilih pilihan yang kedua. Untuk itu, aku merangkak keluar dari selimut dan segera membasuh wajahku dengan air keran yang terasa dingin saat menyentuh pergelangan tanganku.
Aku kemudian menyambar celana training dan kaus warna oranye dari lemari, kemudian mengenakannya secepat kilat. Tak lupa sepatu kets yang tampak kotor untuk melengkapi acara jalan-jalan pagiku hari ini. Setelah semuanya siap, aku langsung keluar tanpa mempedulikan Becca dan Ayah yang mungkin masih meringkuk di balik selimut saat ini.

Saat sampai di luar, udara benar-benar terasa menusuk. Masih ada kabut. Masih ada embun yang tersisa di dedaunan atau ilalang di pekarangan rumahku. Aku tidak bisa berdiam diri terus dan berjalan-jalan biasa di udara sedingin ini. Aku bisa mati kedinginan.
Aku berusaha untuk lari. Dan aku melakukannya. Aku berlari pelan-pelan di awal, dan makin mempercepat langkah kakiku saat aku merasakan bahwa tubuhku terasa hangat. Aku berlari makin kencang lagi. Lagi, lagi dan lagi. Aku tau aku bukan atlet lari lintas alam. Tapi melakukan hal seperti ini di tengah kabut yang dinginnya setengah mati bisa membuat adrenalinku naik.

Sampai akhirnya aku berhenti ketika aku merasakan sekujur tubuhku benar-benar lengket oleh keringat. Ditambah lagi dengan nafas memburu dan jantung yang berdetak tidak karuan. Aku lantas menengok kesamping kanan dan kiri. Kabut sudah tidak ada lagi, entah sudah berapa lama aku berlari. Setengah jam kah?
Saat menengok ke samping kanan dan kiri, aku baru sadar bahwa aku sama sekali tidak mengenali daerah ini. Oh sial.
Aku lupa bahwa aku baru ada di Springfield selama satu minggu—satu minggu yang sudah kulewati bersama sekolah dan kawan-kawan baru. Bagaimana aku bisa tau daerah-daerahnya?
Ya ampun. Aku tersesat.

Seperti kehilangan arah, aku mendengar suara derap langkah kaki di belakangku, membuatku seketika menoleh ke belakang dan menemukan seorang cowok yang tengah berlari kearahku. Demi Neptunus. Aku bisa bertanya pada lelaki itu tentang arah jalan pulang ke rumah.
“Hai.” Katanya, suaranya cukup rendah dan lembut untuk membuat tulangku bergetar.
“Hai.” Balasku. Dan saat itu pula lah aku bisa melihatnya lebih dekat.
Ya ampun. Apakah aku sedang berhalusinasi? Apakah aku sedang ada dalam dunia fantasi? Kalau iya, tolong jangan bangunkan aku dari dunia itu! Holly cowl! Pria yang ada dihadapanku kali ini adalah Troy. Ya. Troy McCartney! Ketua OSIS ganteng yang kutaksir sejak hari pertama masuk sekolah. Sungguh, aku tak pernah membayangkan jika aku akan bertemu dengannya pagi ini.
Geez. Aku menahan nafasku saat ia memiringkan senyumnya. Tidak biasanya aku seperti ini.
“Kau darimana?” katanya.
“Aku tidak tau—“ aku mengigit bibir bawahku, “—Ah, rumah Mr. Woodley!”
“Kau kenal dengan Mr. Woodley?”
Ya ampun. Ternyata dia kenal Ayah.
“Aku anaknya.”
Dia manggut-manggut, sukses membuatnya tampak menggemaskan karena setitik keringat jatuh di pelipisnya. Dia seksi dengan rambut hitamnya, harus kuakui itu.
“Kau berlari?”
Aku menahan nafasku sekali lagi karena dia tersenyum lagi padaku. “Ya. Tapi aku tidak tau jalan pulang.”
Setelah itu dia tertawa. Ya ampun. Dia saja terlihat begitu keren saat tertawa. Jenis tertawa yang membuatmu juga ingin tertawa tanpa ada suatu alasan yang jelas.
“Maafkan aku karena aku tertawa.” Katanya, “Tapi aku bisa menunjukkan jalan pulang buatmu.”
Aku bersorak dalam hati. Cowok tampan ini akan mengantarku pulang? Geez. Rasanya aku ingin berteriak!
                “Mari kuantar.” Katanya, dan aku langsung berjalan di sebelahnya tanpa aba-aba lagi. Aroma tubuhnya yang beraroma gummy secara otomatis membuat hidungku terangsang. Dan hal itu makin terasa maskulin saat bercampur dengan aroma keringatnya yang entah kenapa terasa nyaman. Oh, aku sudah gila.
                “Jadi, kau anak Mr. Woodley?” aku bersyukur karena dia yang memulai percakapan.
                “Ya,” kataku, “Kau mengenalnya?”
                “Tentu saja aku kenal. Kau tak mengenaliku? Aku adalah tetangga sebelah rumahmu.”
                Aku terlonjak seketika. Apa katanya tadi? Tetangga?! Seorang Troy McCartney adalah tetangga sebelah rumahku dan aku tak mengetahuinya?!
                “Oh—well…” aku berkata canggung, “Aku jarang keluar. Dan aku sama sekali tidak tau bahwa kau adalah tetanggaku.”
                “Hahahaha. Tidak apa-apa. Lagipula aku sudah sempat melihatmu di hari pertamamu sekolah. Dan kita bertemu di kelas Fisika dan Ekonomi beberapa kali.”
                Aku yakin wajahku sudah semerah tomat sekarang. Gila. Troy menyadari keberadaanku saat masuk sekolah seminggu yang lalu. Oh, ya Tuhan.
                “Ya, dan kau adalah ketua OSIS itu.”
                “Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”
                “Aku tau dari seseorang,” kataku sok misterius, “Lagipula siapa sih, yang tidak tau seorag Troy McCartney?”
                Aku yakin aku sudah membuatnya geli karena akhirnya dia terkekeh, “Kau pasti tau dari Daniel. Ah, sudahlah. Jangan bahas tentang jabatanku itu.”
                Aku mengedikkan bahu dan terus berjalan sementara Troy berada di sebelahku. Jujur saja, aku tidak pandai memilih topik pembicaraan hingga akhirnya aku terdiam, menunggunya untuk angkat bicara lagi.
                “Ah, aku sangat tidak sopan. Kita belum berkenalan secara resmi,” katanya, lalu berhenti dan berbalik untuk menatapku, “Aku Troy Nicolas McCartney. Siapa namamu?”
                Entah kenapa aku ingin tertawa saat dia menyodorkan tangannya yang kekar padaku. Aku balas menjabat tangannya yang terasa basah oleh keringat sebelum akhirnya berkata, “Regina Persie Woodley. Senang berkenalan denganmu, Troy.”
                Dia mengangguk dan tersenyum, lalu jabatan tangan kami lepas. Kami melanjutkan perjalanan hingga akhirnya Troy kembali membuka pembicaraan.
                “Omong-omong, aku suka aksen Prancismu.”
                Aku yakin wajahku sudah merah padam saat ini, “Terimakasih.”
                “Jadi kau benar-benar dari Prancis? Maksudku, kau memang asli sana?”
                Aku menggeleng, “Ayah masih punya darah Amerika sedangkan Ibu orang Prancis.”
                “Ah, itu masuk akal,” katanya, “Tapi kau benar-benar berbicara seperti orang Prancis.”
                “Karena aku sudah menghabiskan separuh hidupku disana. Tapi aku terpaksa pergi setelah Ayah dan Ibuku bercerai, dan harus pindah ke Amerika karena hak asuh ku jatuh ke tangan Ayah.”
                Troy menatapku iba, “Oh, maafkan aku.”
                “Tidak apa-apa,” kataku.
                Dan setelah itu keadaan berubah hening. Sampai pada akhirnya Troy menjulurkan tangannya dan menyerahkan sebotol minuman mineral padaku. Aku menerima botol yang isinya hanya tinggal setengah itu dan menegaknya hingga hampir tandas.
                “Habiskan saja jika kau haus,” katanya, sontak membuatku malu setengah mati.
                “Ah, maafkan aku.”
                Dia terkekeh lagi dan dia tiba-tiba mendekat kearahku, sehingga kulit kami bersentuhan. Oh, ya Tuhan. Tolong hentikan ini semua. Entah sudah berapa lama kejadian itu berlangsung hingga akhirnya dia menjauh, dan akhirnya dia berkata, “Kita sudah sampai.”
                Aku terhenyak, lalu menengok ke samping kanan. Benar saja. Ini rumahku. Ah. Kenapa perjalanan kami terasa begitu cepat?
                “Terimakasih sudah mengantarku,”
                Troy mengedipkan satu matanya, cukup untuk membuat lutuku lemas, “Anytime, Regina.”
                Aku tersenyum mendengarnya, “Well, I’ll see you soon then?”
                “Yea,” dia mengangguk, “I’ll see you soon then.”
                Aku langsung berbalik dan berusaha menyembunyikan wajah merahku ketika dia berkata seperti itu. Aku baru saja melangkah ke dalam rumah ketika akhirnya Troy memekikan namaku, membuatku berbalik dan menatapnya dengan seribu tanda tanya yang menggantung di atas kepalaku.
                “Regina!”
                “Ya?”
                “Erm—,” katanya sambil mendesis, “Besok Senin, maukah kau berangkat sekolah bersamaku?”
                Holly cowl. Seorang Troy McCartney mengajakku pergi ke sekolah bersama? Apakah ini mimpi? Apa aku baru saja terlelap dan masuk dalam dunia mimpi?
                “Well, itu ide yang bagus. Sepertinya akan menyenangkan,” perkataan itu keluar dari bibirku tanpa kendali. Perkataan itu keluar darisana tanpa bisa kucegah.
                “Baiklah. Aku siap kapanpun kau siap.” Katanya, dan ia tersenyum manis ke arahku.
                “Cool,” kataku, “Sampai jumpa besok pagi.”
                “Sampai jumpa besok pagi.”
                Dan kemudian aku berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah. Dia tidak memanggilku lagi hingga akhirnya aku berhasil masuk ke dalam rumah. Apa yang baru saja terjadi? Aku berjalan bersama Troy McCartney dan dia mengjakku berangkat sekolah bersama? Ya ampun, aku tak bisa menahan senyumku yang tiba-tiba saja tersemat dan merekah di bibirku.
                Pertemuan pertama itu telah menyeretku untuk masuk ke dalam sebuah pusaran yang tak bisa kukendalikan…



To be continued….
Love, BS! :) xx