Pagi ini, tepatnya pukul 00.00, aku dibangunkan oleh bunyi alarm yang bergema nyaring dan menyuarakan lagu Hurricane punya Bridgit Mendler. Aku lantas menjulurkan tangan ke meja di sebelah ranjang, menatap ponsel, dan langsung teringat bahwa tanggal ini adalah tanggal khusus yang sudah kutandai agar aku tidak lupa. Aku segera siap siaga, membuka berbagai macam sosial media dan mengecek segalanya, tapi aku tidak mengucapkan apa-apa, tidak menulis apa-apa. Aku hanya terjaga selama 20 menit dan berlutut sebentar untuk berdoa. Setelahnya aku bangun dan berangkat ke sekolah seperti biasa.
Ada satu hal yang mendukungku untuk tetap diam pada saat alarm itu berbunyi, bahkan ketika aku menatap layar ponsel dan mengetahui hari ini hari apa. Aku tetap diam, atau lebih tepatnya memilih untuk diam dan tidak melakukan apa-apa.
Aku sudah capek dengan semua hal yang tak berujung ini; menyukai tanpa disukai; peduli tanpa dipedulikan; mencintai tanpa dicintai. Aku sudah terbiasa dengan semua ini, sehingga rasanya aku sudah capek menggantungkan harapanku yang terlalu besar untuk seseorang yang sama sekali nggak bisa kuraih. Aku seperti kehilangan arah, merasa selalu mencintai seseorang yang salah. Cinta yang bertepuk sebelah tangan sepertinya sudah menempel dan melekat erat dalam diriku layaknya label harga di toko-toko kelontong. Bahkan lagu Pupus milik Dewa 19 sepertinya sudah seperti ceritaku sendiri, karena aku mengalaminya berulang kali.
Aku sudah sering mengalami kisah sendu tak berujung ini dengan beberapa laki-laki lain. Dan bahkan saat memulai semua ini aku pun sudah tau bagaimana semua ini akan berakhir; ini semua tidak akan pernah ada ujungnya. Mengambang teratur, lalu tiba-tiba hilang dengan aku yang mulai melupakannya walaupun butuh waktu yang cukup lama.
It suck, you know?
Knowing that someone you want the most doesn't want you back. Or knowing that someone you care the most is the person who hurt you the most.
Well... if you feel the same way, you are not alone then. Because I've been through this so many times.
Aku tidak takut jatuh cinta, aku siap menjatuhkan cintaku pada siapapun yang kumau, tapi rasa-rasanya aku selalu menjatuhkannya kepada seseorang yang salah. Seseorang yang nggak tau bahwa aku disini, menatapnya diam-diam, mengecek seluruh sosial media miliknya dan kadang-kadang mengunduh fotonya sebagai sesuatu yang bisa dipandang saat perasaan itu meluap jika nggak ketemu sama dia dengan jangka waktu lama.
Aku sudah merahasiakan perasaan ini dari sahabat-sahabatku selama 5 bulan penuh, padahal semua orang tau bahwa aku benar-benar nggak bisa menyimpan rahasiaku sendiri. Tapi dengan laki-laki satu ini, aku membuat pengecualian. Aku membuat pengecualian dan menjaga perasaan ini sendiri. Hanya aku dan Tuhan yang tau selama 5 bulan itu.
Tapi akhirnya mereka mengetahuinya, dan ekspresi mereka saat mendengarnya hampir semua sama. Seolah-olah wajah mereka mengatakan, "lo nggak mungkin jadi sama dia, dia terlalu tinggi buat lo, nggak usah banyak berharap karena toh dia nggak mungkin lirik elo."
Tapi semua itu memang benar. Aku dan dia memang jauh berbeda. Dia pendiam, aku koar koar. Dia pintar, aku standar. Dia begitu tampan, aku buruk rupa. Dia punya ekspektasi cewek yang tinggi, sedangkan aku disini hanya seuntai kain yang nggak berarti buat dia.
Dari awal aku memang tau bahwa aku dan dia mustahil untuk menjadi satu, tapi bodohnya aku tetap mencoba. Mencoba untuk memulai percakapan di sosial media yang membutuhkan waktu 2 jam untuk mengirimnya. Mencoba untuk melakukan first move walaupun akhirnya gagal. Aku ingat persis tanganku bergetar hebat waktu itu, sampai akhirnya aku nekat meng-klik kata send dari layar ponsel. Tiga puluh menit kemudian, dia membalasnya. Lumayan panjang, lumayan membuatku lega karena aku pikir dia nggak merasa annoyed of my behave. Namun, percakapan itu berlangsung hanya dua hari, diawali dengan ucapan natal dan barisan pertanyaan basa-basi yang dia dan aku tanyakan. Lalu setelah itu, semuanya berhenti. Berhenti begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Aku sudah mengeceknya berulang kali, namun hasilnya tetap kosong; dia membiarkan pesan terakhirku tak terbalas dan digantungkan begitu saja.
Aku ingat betul bahwa hari itu hariku rasanya kelabu. Aku diabaikan, dan aku yakin bahwa dia memang tidak menyukaiku seperti aku menyukainya.
Namun aku memang bodoh karena aku masih mengharapkannya setelah semua kejadian itu. Aku tetap memeriksa akunnya setiap hari, mengambil napas lega karena nyatanya dia baik-baik saja. Dan dua bulan setelah percakapan itu, tepatnya hari ini, aku mulai ragu. Aku bukan meragukan perasaanku terhadapnya, namun aku meragukan kekukuhan hatiku yang masih terus mengharapkannya setiap hari. Rasanya sosok itu hanya sebuah imajinasi yang kutemui setiap seminggu sekali jika beruntung. Rasanya sosok itu hanya sebuah ilusi semu dan angan-angan yang nggak akan pernah bisa kucapai seberapa besar pun aku mencoba. Aku sudah mengalami ini berulang kali, dan aku tau bahwa semua ini nggak akan berakhir; tetap menggantung disana, nggak berbunga apalagi berbuah.
Dan hari ini, tepatnya tanggal 26 Februari 2014, aku sudah membulatkan tekad dan memilih untuk mundur. Aku memilih mundur dan berniat melupakannya, seolah-olah perasaan ini nggak pernah ada, sama seperti perasaannya yang nggak pernah ada buatku. Aku tau persis skenario cerita tak berujung ini, dan aku nggak mau melihat endingnya. Aku akan menuntaskannya dan mengakhirinya dengan kemunduranku sendiri, sebelum aku tersakiti oleh diri sendiri dan mempunyai ekspektasi yang bisa membuatku gila.
Kita mungkin nggak pernah berbicara, mungkin hanya berjabat tangan dua kali. Tapi aku tau, aku harus melanjutkan hidupku dan kamu dengan hidupmu.
Aku akan berusaha melupakanmu walaupun itu sulit, dan kamu akan tetap menganggapku tidak ada. Selesai. Tidak ada yang dirugikan dalam skenario ini, bukan?
Aku memutuskan untuk mundur. Toh kalau kita memang seharusnya bersatu, sekuat apapun aku menjauh, kamu akan selalu ada disampingku, menjadi seseorang yang bisa menjagaku.
If its meant to be, it will be.
Dan oh, ya. Satu lagi, kalau kamu kebetulan membacanya.
Selamat ulang tahun yang ke-19. :)
Because I'm just a girl caught up in dreams and fantasies. And we are just a speck of dust within the galaxy. Welcome to my projects, my writings, and basically; welcome to my life-journal! :)
Rabu, 26 Februari 2014
Jumat, 27 Desember 2013
Being Ignored
Diabaikan.
Bukankah satu kata diatas adalah salah satu hal yang paling dibenci cewek di seluruh dunia? Semua cewek di dunia; mau itu tua atau muda, kurus atau gendut, cantik atau buruk rupa, semuanya nggak suka diabaikan. Entah itu diabaikan sama orang tua, sama temen, apalagi sama that someone special yang udah ditaksir sejak lama. Rasanya campur aduk kalau udah diabaikan sama seseorang yang ditunggu-tunggu, padahal butuh waktu berjam-jam untuk mengetikkan sesuatu dan mengirimkan satu pesan singkat buat dia. Butuh seikat keberanian yang kuat dan satu muka tebal yang siap nerima apapun yang akan dibalaskan sama that someone special.
Ditambah lagi, kaum kita adalah kaum yang disebut perempuan. We need extra courage to do the first move, untuk memulai percakapan yang pertama. Semua orang selalu bilang, "guys always make a first move." tapi kayaknya sekarang udah nggak jaman lagi yang begituan, karena sebenarnya cewek juga bisa. Girls also make the first move!
Tapi... dengan satu kondisi. Karena cewek kebanyakan sensitif dan pengen banget diperhatiin, dalam hal ini cewek harus berhati baja untuk buat first move dan siap kalo that someone special nggak bales your texts.
Pait banget ya? Paiiiiiiit banget kalo didiemin gitu. Seolah-olah campur aduk di dalam hati, perasaannya seakan berkecamuk.
"Dia keganggu kali kalo gue sms." "Dia sibuk kali." "Mungkin ga deliv!" "Dia mungkin baca, nggak ada pulsa kali." "Mungkin sengaja ga dibaca sama dia." "Mungkin udah dibaca, tapi males dibales." "Duh, kayaknya dia nggak suka sama gue." "Duh, kayaknya dia benci banget sama gue." "Dia jijik kali sama gue!" "Njrit, gue yakin banget dia nggak suka sama gue dan nggak pernah mau gue sms dia!"
DUAAAAAAAR!
Meledak deh lo meledak!
Serba salah sebenernya jadi kaum perempuan. Buat langkah pertama, nggak diladenin. Nggak buat langkah, stuck aja di tempat.
Serba salah, kan?
Dan satu, being ignored is one of the worst thing in the whooooole world. Solusinya biar nggak diabaikan? Gue juga nggak tau. Masih cari jalan keluar. Sama-sama buntu. Dan gue suntuk banget. Beteeeee banget.
BYE.
Jumat, 08 November 2013
Amy's Diary #2
Berbicara dengan Nathan adalah sebuah hal yang mengasyikkan. Poin plus-nya adalah bahwa ia luarbiasa tampan dan punya selera humor yang sama denganku. Sudah 2 jam aku berbicara dengannya, dan dalam dua jam itu pula aku sudah menghabiskan 2 cangkir cokelat panas. Nathan lebih parah karena ia menghabiskan 1 cangkir cokelat panas dan 2 cangkir kopi, ditambah lagi vanilla pop tart yang sekarang sedang ia santap.
Sejauh ini, kami sudah berbicara tentang banyak hal. Tentang hobi dan rancangan masa depan, misalnya. Dia juga bertanya banyak tentang Indonesia, dan aku menanyainya balik tentang Australia. Aku diam-diam bersyukur karena bisa berbahasa Inggris lancar, mengingat Papa dulu selalu menuntutku untuk berbicara Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman supaya bisa mudah berbicara dengannya.
Aku juga berbicara tentang kuliahku yang mengambil jurusan Komunikasi di salah satu Universitas Swasta di Jakarta, dan juga tentang restoran yang dibangun Papa di 12 kota di Indonesia. Nathan mendengarkan semua ceritaku dengan baik. Aku sudah menobatkan dia sebagai salah satu pendengar terbaik atas semua cerita-ceritaku, karena semua ceritaku sepertinya selalu menarik untuknya.
"Jadi kamu sempat cuti kuliah selama satu tahun karena membantu Papa-mu membangun restoran?"
Aku menyesap cokelat panas, lalu mengangguk. "Yepp. Dan hasilnya nggak sia-sia, karena Papa nggak hanya buka cabang di Jakarta saja, tapi sudah meluas di 12 kota besar di Indonesia. Papa malah berencana membuka cabang juga di Berlin."
Nathan menganga. "12 kota? Geez. Papa kamu sepertinya keren sekali."
"Yes. He totally is." kataku bangga, "Tapi jangan lupa. Saya juga ikut andil dalam pembukaan restoran pertama Papa. Dan berkat itu semua, saya jadi tau bagaimana rasanya struggling untuk mencapai sebuah kesuksesan."
Nathan tersenyum samar, sedikit menyipitkan matanya dan menatapku dengan sebuah tatapan yang tak bisa kutebak. "Ternyata ke-kerenan Papa mu menurun sama kamu."
Aku terkekeh. "Banyak orang yang bilang begitu. Kamu bukan yang pertama."
"Dasar narsis."
Kini aku tertawa. "Tapi benar, lho. Dibandingkan Tiffany, saya jauh lebih dewasa. Yah, setidaknya begitulah kata beberapa orang."
"Tiffany siapa?"
Ah, aku lupa memberi tahu tentang Tiffany pada Nathan. "Tiffany Summers, kakak saya."
Nathan mengangguk-angguk, lalu menyuapkan sesendok vanilla pop tart ke dalam mulutnya.
Diam-diam aku melirik kearah jam tangan merk Dior palsu yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Sudah jam setengah sepuluh malam. Itu berarti sudah lebih dari 2 jam aku berbicara pada Nathan. Tapi anehnya, aku tidak merasa bosan sama sekali. Aku justru ingin berbicara padanya setiap waktu. Sampai pagi, kalau aku bisa.
"Jadi, kapan kamu akan lulus kuliah?"
Aku melenguh, topik ini adalah topik pembicaraan yang paling aku benci. Semua orang sepertinya selalu menanyakannya padaku, dan setiap kali mereka menanyakannya, aku selalu menjawab, "Secepatnya."
Nathan mengembuskan napas, sepertinya mengerti kalau aku tidak suka ditanyai tentang kuliahku yang tak kunjung kelar. "Tidak apa-apa. Dulu saya juga telat lulus kuliah, kok."
"Really?!"
"Yepp. Dulu saya malas, kamu tau. Tapi pada akhirnya, saya berhasil lulus dan dapat nilai diatas rata-rata."
Aku mengangguk-angguk, mungkin aku terlalu banyak berbicara mengenai diriku sendiri sehingga aku lupa menanyakan seluk beluk tentangnya.
"Jadi sekarang kamu bekerja?"
Nathan menipiskan bibirnya. "Tidak juga."
Aku menaikkan alis. "Lantas?"
"Saya seorang pengusaha."
Pengusaha! Gee. Tampan, sopan, pengusaha pula!
"Kamu pemilik sebuah perusahaan?" aku berkata datar, sebisa mungkin menutupi kekagumanku padanya.
"Bukan sebuah perusahaan, hanya bisnis kecil-kecilan saja."
Aku mengibaskan tanganku. "Yang namanya pengusaha, mau sekecil apapun, tetap saja namanya pengusaha." Aku bersikeras. "Jadi, bisnis apa yang kamu miliki?"
"Sebuah kafe."
"Wah!" aku mendadak sumringah. "Kafe apa?"
"Kafe ini."
Aku hampir tersedak oleh kesumringahanku sendiri ketika Nathan menjilat bibir bawahnya dan tertawa melihat ekspresiku. Aku yakin aku melotot sekarang, karena Nathan makin tertawa. Bagaimana tidak? Aku sedang duduk bersama seorang pemilik kafe! Tambahan; pemilik kafe yang sekarang sedang aku kunjungi!
"Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal?!" aku mendadak protes.
"Kamu saja yang tidak menanyakannya."
Aku menggaruk pelipisku yang tidak gatal. "Mungkin saya terlalu berbicara banyak mengenai diri saya sendiri."
"Tidak, kok." katanya, "Tidak apa-apa. Saya suka mendengarnya."
Mendadak aku merasa wajahku memanas. Dan aku yakin sekali bahwa kedua pipiku yang tembam sudah berubah warna menjadi merah tomat sekarang juga.
"You're blushing." ujar Nathan.
"I'm not."
Nathan terkekeh. "Yes, you are."
"Sudahlah, change the topic, please?"
Nathan terkekeh hebat setelahnya. Aku yakin tawanya kali ini akan berlangsung lama, jadi akhirnya aku yang angkat bicara. "Nathan, stop." kataku, melihatnya masih terkekeh hebat. Sebenarnya apa yang lucu dari seorang Amy yang sedang tersipu?
"Okay, I'll stop."
"Good." balasku.
Butuh waktu beberapa detik sebelum akhirnya aku menemukan pertanyaan ampuh untuk membuka pembicaraan lagi. "Kamu masih muda, dan kamu sudah punya kafe sendiri. Saya yakin kamu belum menginjak usia 30 tahun. Kamu sama kerennya seperti Papa saya. Tapi tetap Papa saya yang paling keren, tentu saja."
Nathan tersenyum manis dan memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih bersih. "Tidak juga. Kafe ini baru dibuka beberapa bulan yang lalu. Belum keren."
"Tapi kafe ini cozy, cokelat panasnya enak sekali."
"Well, thanks for that." jawabnya.
Aku mengangguk, tersenyum melihatnya menyesap kopi lagi. Aku jadi penasaran berapa umurnya. "Jadi, berapa umurmu?"
Nathan mengerutkan keningnya. "Pertanyaannya telak sekali."
Aku tertawa kali ini. "Belum sampai 30, kan?"
"Coba tebak saja. Saya akan mengangguk kalau kamu benar."
Aku menggigit bibir bawahku. Pembicaraan ini semakin menarik.
"Dua puluh lima?"
Nathan menggeleng.
"Dua puluh dua?"
Nathan merengut, lalu menggeleng.
"Dua puluh delapan?"
Nathan tersenyum, tapi tetap menggeleng. Aku mengerutkan kening, menatap wajahnya dan terus saja menebak-nebak.
"Dua puluh tujuh!" aku berkata mantap. Kali ini pasti aku benar.
Tapi ternyata, Nathan menggeleng lagi.
"Lima belas." aku berkata ngawur, dan Nathan langsung tertawa. Entah kenapa tawanya terdengar merdu di telingaku.
"Dua puluh enam." ucapnya, menyerah pada akhirnya.
Aku mengedikkan bahu, well--tebakanku hampir benar.
"Beda tiga tahun dari saya."
Nathan melebarkan matanya, "Benarkah? Tadinya saya kira kamu masih tujuh belas." katanya, "Tapi tidak mungkin, mengingat kamu telat lulus kuliah." ledeknya, dan aku mencibir kesal.
"Berkatalah semau kamu, Mr. Mills."
Nathan tertawa lagi. Duh, tawanya seperti kerupuk. Renyah sekali, dan menyenangkan saat sampai di telinga.
"Twenty six and available." Perkataan Nathan yang begitu tiba-tiba membuatku berhenti menyesap cokelat panasku.
"Jangan bercanda." aku mengibaskan tangan.
"I'm not, Amy."
Aku terkekeh geli. "Come on, Nathan. You are perfect, and I'm sure that you already have a girlfriend. A fiance, even."
"Ah. Thank you for saying that I'm perfect, by the way."
Aku terkesiap. Aku tau aku keceplosan.
"Maksud saya, kamu begitu matang dan pasti banyak cewek yang naksir kamu. Masa kamu tidak punya pacar?"
Nathan mengedikkan bahu, "I guess I'm the picky ones."
"Let me guess... You looking for the perfect one, do ya?"
"I think so. Not the perfect girl, but the perfect one."
Aku mengangguk. "Kamu belum menemukannya?"
"Sejauh ini belum. But I'm still working on it." jawabnya mantap, "Kalau kamu sendiri bagaimana?"
Aku menunduk, lalu menertawai diriku sendiri dalam hati. "Twenty three and available." ucapku meniru perkataannya.
"That's great for ya."
"Not as great as I expected, I think."
Nathan mencondongkan badannya kearahku. "Why not?"
"It's a long story." balasku, masih menunduk. "Guess I'm not gonna talk about that."
Aku menatap Nathan, dan aku menangkapnya dalam bola mataku yang kali ini menyipit. Aku tidak mau membahas tentang masa laluku. Tidak untuk saat ini, tidak di tempat ini, tidak pada Nathan--satu-satunya pria Gold Coast yang paling menarik sejauh aku berada disini.
"I understand. Lets change the topic."
Aku mengulum senyum. "Yeah, we better change the topic."
Aku menggigit bibir bawahku, kembali menatap Nathan yang kali ini juga sedang menatapku. Kami berdua tersenyum, lalu sama-sama kikuk dan memilih untuk membuang pandangan kami masing-masing.
Oh. Entah apa yang sudah kulakukan.
Aku berbicara pada Jonathan Mills selama 2 jam lebih. I mean, he's a total stranger and I met him in a cafe! What a romantic movie's story, I guess!
Tapi aku tidak peduli. Aku hanya senang berbicara dengannya, mengingat perbincangan kami yang tidak ada habisnya. Aku belum tau dimana ujung pembicaraan kami. Dan sepertinya, aku tidak ingin tau. Berbicara dengannnya membuatku gembira, membuatku kembali merasakan sengatan aneh dan rasa panas di pipiku. Entah karena sikapnya yang sopan, wajahnya yang tampan, selera humor kami yang sama, atau aku memang tertarik padanya.
Ya ampun.
Apa yang sudah kau lakukan, Amy Summers?!
Sejauh ini, kami sudah berbicara tentang banyak hal. Tentang hobi dan rancangan masa depan, misalnya. Dia juga bertanya banyak tentang Indonesia, dan aku menanyainya balik tentang Australia. Aku diam-diam bersyukur karena bisa berbahasa Inggris lancar, mengingat Papa dulu selalu menuntutku untuk berbicara Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman supaya bisa mudah berbicara dengannya.
Aku juga berbicara tentang kuliahku yang mengambil jurusan Komunikasi di salah satu Universitas Swasta di Jakarta, dan juga tentang restoran yang dibangun Papa di 12 kota di Indonesia. Nathan mendengarkan semua ceritaku dengan baik. Aku sudah menobatkan dia sebagai salah satu pendengar terbaik atas semua cerita-ceritaku, karena semua ceritaku sepertinya selalu menarik untuknya.
"Jadi kamu sempat cuti kuliah selama satu tahun karena membantu Papa-mu membangun restoran?"
Aku menyesap cokelat panas, lalu mengangguk. "Yepp. Dan hasilnya nggak sia-sia, karena Papa nggak hanya buka cabang di Jakarta saja, tapi sudah meluas di 12 kota besar di Indonesia. Papa malah berencana membuka cabang juga di Berlin."
Nathan menganga. "12 kota? Geez. Papa kamu sepertinya keren sekali."
"Yes. He totally is." kataku bangga, "Tapi jangan lupa. Saya juga ikut andil dalam pembukaan restoran pertama Papa. Dan berkat itu semua, saya jadi tau bagaimana rasanya struggling untuk mencapai sebuah kesuksesan."
Nathan tersenyum samar, sedikit menyipitkan matanya dan menatapku dengan sebuah tatapan yang tak bisa kutebak. "Ternyata ke-kerenan Papa mu menurun sama kamu."
Aku terkekeh. "Banyak orang yang bilang begitu. Kamu bukan yang pertama."
"Dasar narsis."
Kini aku tertawa. "Tapi benar, lho. Dibandingkan Tiffany, saya jauh lebih dewasa. Yah, setidaknya begitulah kata beberapa orang."
"Tiffany siapa?"
Ah, aku lupa memberi tahu tentang Tiffany pada Nathan. "Tiffany Summers, kakak saya."
Nathan mengangguk-angguk, lalu menyuapkan sesendok vanilla pop tart ke dalam mulutnya.
Diam-diam aku melirik kearah jam tangan merk Dior palsu yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Sudah jam setengah sepuluh malam. Itu berarti sudah lebih dari 2 jam aku berbicara pada Nathan. Tapi anehnya, aku tidak merasa bosan sama sekali. Aku justru ingin berbicara padanya setiap waktu. Sampai pagi, kalau aku bisa.
"Jadi, kapan kamu akan lulus kuliah?"
Aku melenguh, topik ini adalah topik pembicaraan yang paling aku benci. Semua orang sepertinya selalu menanyakannya padaku, dan setiap kali mereka menanyakannya, aku selalu menjawab, "Secepatnya."
Nathan mengembuskan napas, sepertinya mengerti kalau aku tidak suka ditanyai tentang kuliahku yang tak kunjung kelar. "Tidak apa-apa. Dulu saya juga telat lulus kuliah, kok."
"Really?!"
"Yepp. Dulu saya malas, kamu tau. Tapi pada akhirnya, saya berhasil lulus dan dapat nilai diatas rata-rata."
Aku mengangguk-angguk, mungkin aku terlalu banyak berbicara mengenai diriku sendiri sehingga aku lupa menanyakan seluk beluk tentangnya.
"Jadi sekarang kamu bekerja?"
Nathan menipiskan bibirnya. "Tidak juga."
Aku menaikkan alis. "Lantas?"
"Saya seorang pengusaha."
Pengusaha! Gee. Tampan, sopan, pengusaha pula!
"Kamu pemilik sebuah perusahaan?" aku berkata datar, sebisa mungkin menutupi kekagumanku padanya.
"Bukan sebuah perusahaan, hanya bisnis kecil-kecilan saja."
Aku mengibaskan tanganku. "Yang namanya pengusaha, mau sekecil apapun, tetap saja namanya pengusaha." Aku bersikeras. "Jadi, bisnis apa yang kamu miliki?"
"Sebuah kafe."
"Wah!" aku mendadak sumringah. "Kafe apa?"
"Kafe ini."
Aku hampir tersedak oleh kesumringahanku sendiri ketika Nathan menjilat bibir bawahnya dan tertawa melihat ekspresiku. Aku yakin aku melotot sekarang, karena Nathan makin tertawa. Bagaimana tidak? Aku sedang duduk bersama seorang pemilik kafe! Tambahan; pemilik kafe yang sekarang sedang aku kunjungi!
"Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal?!" aku mendadak protes.
"Kamu saja yang tidak menanyakannya."
Aku menggaruk pelipisku yang tidak gatal. "Mungkin saya terlalu berbicara banyak mengenai diri saya sendiri."
"Tidak, kok." katanya, "Tidak apa-apa. Saya suka mendengarnya."
Mendadak aku merasa wajahku memanas. Dan aku yakin sekali bahwa kedua pipiku yang tembam sudah berubah warna menjadi merah tomat sekarang juga.
"You're blushing." ujar Nathan.
"I'm not."
Nathan terkekeh. "Yes, you are."
"Sudahlah, change the topic, please?"
Nathan terkekeh hebat setelahnya. Aku yakin tawanya kali ini akan berlangsung lama, jadi akhirnya aku yang angkat bicara. "Nathan, stop." kataku, melihatnya masih terkekeh hebat. Sebenarnya apa yang lucu dari seorang Amy yang sedang tersipu?
"Okay, I'll stop."
"Good." balasku.
Butuh waktu beberapa detik sebelum akhirnya aku menemukan pertanyaan ampuh untuk membuka pembicaraan lagi. "Kamu masih muda, dan kamu sudah punya kafe sendiri. Saya yakin kamu belum menginjak usia 30 tahun. Kamu sama kerennya seperti Papa saya. Tapi tetap Papa saya yang paling keren, tentu saja."
Nathan tersenyum manis dan memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih bersih. "Tidak juga. Kafe ini baru dibuka beberapa bulan yang lalu. Belum keren."
"Tapi kafe ini cozy, cokelat panasnya enak sekali."
"Well, thanks for that." jawabnya.
Aku mengangguk, tersenyum melihatnya menyesap kopi lagi. Aku jadi penasaran berapa umurnya. "Jadi, berapa umurmu?"
Nathan mengerutkan keningnya. "Pertanyaannya telak sekali."
Aku tertawa kali ini. "Belum sampai 30, kan?"
"Coba tebak saja. Saya akan mengangguk kalau kamu benar."
Aku menggigit bibir bawahku. Pembicaraan ini semakin menarik.
"Dua puluh lima?"
Nathan menggeleng.
"Dua puluh dua?"
Nathan merengut, lalu menggeleng.
"Dua puluh delapan?"
Nathan tersenyum, tapi tetap menggeleng. Aku mengerutkan kening, menatap wajahnya dan terus saja menebak-nebak.
"Dua puluh tujuh!" aku berkata mantap. Kali ini pasti aku benar.
Tapi ternyata, Nathan menggeleng lagi.
"Lima belas." aku berkata ngawur, dan Nathan langsung tertawa. Entah kenapa tawanya terdengar merdu di telingaku.
"Dua puluh enam." ucapnya, menyerah pada akhirnya.
Aku mengedikkan bahu, well--tebakanku hampir benar.
"Beda tiga tahun dari saya."
Nathan melebarkan matanya, "Benarkah? Tadinya saya kira kamu masih tujuh belas." katanya, "Tapi tidak mungkin, mengingat kamu telat lulus kuliah." ledeknya, dan aku mencibir kesal.
"Berkatalah semau kamu, Mr. Mills."
Nathan tertawa lagi. Duh, tawanya seperti kerupuk. Renyah sekali, dan menyenangkan saat sampai di telinga.
"Twenty six and available." Perkataan Nathan yang begitu tiba-tiba membuatku berhenti menyesap cokelat panasku.
"Jangan bercanda." aku mengibaskan tangan.
"I'm not, Amy."
Aku terkekeh geli. "Come on, Nathan. You are perfect, and I'm sure that you already have a girlfriend. A fiance, even."
"Ah. Thank you for saying that I'm perfect, by the way."
Aku terkesiap. Aku tau aku keceplosan.
"Maksud saya, kamu begitu matang dan pasti banyak cewek yang naksir kamu. Masa kamu tidak punya pacar?"
Nathan mengedikkan bahu, "I guess I'm the picky ones."
"Let me guess... You looking for the perfect one, do ya?"
"I think so. Not the perfect girl, but the perfect one."
Aku mengangguk. "Kamu belum menemukannya?"
"Sejauh ini belum. But I'm still working on it." jawabnya mantap, "Kalau kamu sendiri bagaimana?"
Aku menunduk, lalu menertawai diriku sendiri dalam hati. "Twenty three and available." ucapku meniru perkataannya.
"That's great for ya."
"Not as great as I expected, I think."
Nathan mencondongkan badannya kearahku. "Why not?"
"It's a long story." balasku, masih menunduk. "Guess I'm not gonna talk about that."
Aku menatap Nathan, dan aku menangkapnya dalam bola mataku yang kali ini menyipit. Aku tidak mau membahas tentang masa laluku. Tidak untuk saat ini, tidak di tempat ini, tidak pada Nathan--satu-satunya pria Gold Coast yang paling menarik sejauh aku berada disini.
"I understand. Lets change the topic."
Aku mengulum senyum. "Yeah, we better change the topic."
Aku menggigit bibir bawahku, kembali menatap Nathan yang kali ini juga sedang menatapku. Kami berdua tersenyum, lalu sama-sama kikuk dan memilih untuk membuang pandangan kami masing-masing.
Oh. Entah apa yang sudah kulakukan.
Aku berbicara pada Jonathan Mills selama 2 jam lebih. I mean, he's a total stranger and I met him in a cafe! What a romantic movie's story, I guess!
Tapi aku tidak peduli. Aku hanya senang berbicara dengannya, mengingat perbincangan kami yang tidak ada habisnya. Aku belum tau dimana ujung pembicaraan kami. Dan sepertinya, aku tidak ingin tau. Berbicara dengannnya membuatku gembira, membuatku kembali merasakan sengatan aneh dan rasa panas di pipiku. Entah karena sikapnya yang sopan, wajahnya yang tampan, selera humor kami yang sama, atau aku memang tertarik padanya.
Ya ampun.
Apa yang sudah kau lakukan, Amy Summers?!
Kamis, 07 November 2013
Amy's Diary #1
Hari itu adalah hari Sabtu di awal bulan Agustus. Aku sedang terduduk di pojok sebuah kafe sambil melihat-lihat isi laptop dan mendengarkan lagu melalui earphone murahan yang kubeli di toko elektronik China di ujung blok. Tak banyak yang bisa kulakukan di tempat ini, walaupun pada awalnya aku ingin sekali mengunjungi tempat ini sekali seumur hidup. Aku masih punya 3 minggu lebih di kota yang penuh dengan pantai ini sebelum liburan musim panasku berakhir. Entah aku harus senang atau sedih karena aku masih mempunyai setidaknya 20 hari untuk tinggal di Gold Coast, sebuah kota kecil di bagian negara Queensland, Australia.
Aku mengaduk coklat panas kedua yang kupesan dari kafe ini. Rasa coklat panasnya enak sekali, padahal kafe ini tidak terlalu besar dan pengunjungnya hanya beberapa. Tapi kafe ini nyaman dengan interior klasik dan juga aroma kopi yang menyeruak manis di setiap ujung ruangan.
Aku mematikan laptop, menutupnya dan kemudian memasukkannya ke dalam ransel. Aku merasa ada sepasang mata yang mengawasiku, dan saat aku mendongak, aku baru tau bahwa ada seorang pemuda yang sedang menatapku sambil menyesap kopinya.
Aku menatapnya balik, membuatnya melepaskan pandangannya dariku dan berpura-pura tidak melihatku, padahal aku tau persis bahwa dia tadi melihatku. Aku mengacuhkannya, lalu menyesap coklat panasku lagi dan aku merasa bahwa matanya mengawasiku lagi. Aku secepat kilat mendongak, dan secepat kilat itu pula pemuda itu mengalihkan pandangannya dariku.
Aku mengernyit. Dasar aneh.
Lalu tiba-tiba, aku merasa bahwa pemuda itu berjalan ke mejaku. Dari sudut mataku, aku yakin sekali bahwa pemuda itu kini sudah berdiri tepat di sebelah mejaku.
"Hallo."
Dia menyapa, membuatku mau tak mau mendongak dan menatapnya juga.
"Ha-llo?" jawabku canggung, ia membalasnya dengan senyuman tipis.
"Maaf ya, tadi saya melirik kearah kamu dua kali." katanya, tersenyum lagi. "Maaf saya sudah bersikap tidak sopan. Sebenarnya saya hanya penasaran saja. Kamu sepertinya bukan berasal dari daerah ini, ya?"
Aku meneguk ludahku, pemuda ini jelas berbicara terlalu sopan. "Tidak apa-apa. Dan, ya. Saya memang bukan berasal dari sini. Saya berasal dari Indonesia."
Pemuda itu mengangguk-angguk, menilai fakta bahwa gadis sepertiku berasal dari Indonesia sepertinya membuatnya tertarik.
"Kamu seperti bukan orang Indonesia." Aku sudah menyangka bahwa ia akan mengatakannya. Pemuda itu lantas mengedikkan bahu, menarik kursi yang ada di depanku. "Boleh saya duduk disini?"
"Silahkan." jawabku buru-buru.
"Terimakasih." katanya, "Kamu bukan orang asli Indonesia, ya? Wajah kamu seperti orang western, berbeda sekali dengan wajah salah satu teman saya yang asli Indonesia."
Aku tersenyum kecil. "Wajah saya ikut wajah Papa yang kebetulan asli Jerman, tapi saya lahir di Indonesia dan besar di Indonesia."
"Saya sudah tebak." Pemuda itu mengedikkan jarinya, lalu tersenyum lebar padaku. Senyumannya bagus dan giginya putih bersih. "Ada acara apa di Gold Coast? Liburan? Atau mengunjungi pacar?"
Aku mendengus. "Hanya liburan musim panas, kok. Saya kembali ke Indonesia bulan September mendatang."
"Biar saya tebak... Kamu pasti datang sendirian saja ke Gold Coast?" mata pemuda itu mendelik, membuatku bisa melihat matanya yang ternyata berwarna biru keabuan.
"Sedihnya, ya. Tapi saya tinggal bersama sepupu saya yang kebetulan kuliah disini."
Pemuda itu mengangguk lagi, seperti tanda bahwa ia mengerti. Sementara ia mengangguk-angguk seperti burung pelatuk, aku diam-diam mengamati wajahnya. Wajahnya lonjong dengan garis muka tegas dan juga dagu yang sedikit runcing. Bentuk mukanya nyaris sempurna layaknya pahatan, alisnya tebal berwarna cokelat, lalu bibirnya berwarna merah muda yang sepertinya nikmat sekali jika dicium. Rambutnya coklat gelap, dan warna matanya biru keabuan. Walaupun mempunyai garis muka yang tegas, pemuda ini punya cara bicara yang membuatku kagum karena kesopanannya. Duh, dia adalah pemuda pertama yang nyaris sempurna yang kutemui di Gold Coast selama 5 hari disini.
"Ya ampun. Saya begitu tidak sopan. Saya lupa memperkenalkan diri saya pada kamu."
Perkataannya membuyarkan lamunanku yang melambung jauh. Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Duh, apa yang baru saja aku pikirkan?
"Nama saya Jonathan Mills. Kamu cukup panggil saya Nathan." Nathan mengulurkan tangan dan aku membalasnya. Tangannya terasa besar dan kekar saat menjabat tanganku.
"Amy Summers." kataku, tersenyum padanya.
"Senang berkenalan denganmu, Amy." kata Nathan dengan senyuman mautnya.
"Senang berkenalan denganmu juga, Nathan." jawabku, dan jabatan tangan kami terlepas setelahnya.
"Coklat panas kamu sudah hampir habis. Pesan lagi saja, ya? Saya yang traktir."
Aku menggeleng. "Saya bisa beli sendiri kok..."
"Jangan menolak. Anggap saja hadiah dari pemuda aneh bernama Nathan yang sok pintar ini."
Mau tak mau aku tertawa kecil. Dia lucu juga. Aku sebenarnya bisa saja menolaknya, tapi aku tau aku tidak bisa. Satu cangkir cokelat bisa memuat satu jam pembicaraan dengan seseorang. Dan entah mengapa, saat Nathan mengangkat tangannya dan memesan satu cokelat panas untukku dan untuknya, aku tersenyum diam-diam.
Sepertinya aku akan suka berbicara dengannya. Dan sepertinya, aku akan menikmati sisa liburan ini jika begini caranya.
Aku tau semua ini terdengar aneh.
Tapi siapa peduli?
Jumat, 18 Oktober 2013
Summertime Of Our Lives
Hanya potongan kecil dari sebuah cerita yang saya buat.
Enjoy :)
****
Stella berusaha untuk tidak gusar saat pria itu menarik
tubuhnya mendekat, memeluknya dan menyelimuti tubuhnya dengan kehangatan yang
membuatnya merasa nyaman.
Stella sudah berada di bandara, bersama Justin,
dan juga bersama Rosie. Pesawat mereka akan lepas landas sebentar lagi. Dan
Stella tau saat itu juga ia harus berpisah dengan Justin.
Tak ada yang bisa diingatnya mengenai apa yang terjadi
semalam ketika ia menemukan tubuhnya yang terbalut baju sempurna di kamar hotelnya
pagi ini. Ia tampak tidak berantakan. Tampak segar. Dan tak ada Justin di
sampingnya saat ia terbangun. Yang ada di sebelahnya justru Rosie yang sedang
mendengkur hebat. Entah apa yang sudah Justin katakan pada Rosie ketika Rosie
berkata bahwa Justin menemukan Stella di depan pub, pingsan dan sama sekali tak
bergerak. Justin membawa Stella ke kamar hotelnya, dengan selimut tebal saat
ia terbangun.
“Sampai bertemu di lain waktu, Stella,” kata Justin
seusai mendekap tubuh Stella selama beberapa saat. Ia sudah sempat berpamitan
pada Rosie lima menit yang lalu. Dan tadi ia sempat meminta Rosie untuk
memberikan waktu khusus untuk mereka berdua.
“Justin aku hanya ingin—“
“Ssssssh,” Justin tiba-tiba saja menyentuh bibir Stella
dengan telunjuknya, “Aku tau kau mungkin bingung. Namun percayalah bahwa
semuanya akan baik-baik saja.”
Stella mengigit bibir bawahnya. Ia mendengar panggilan
itu lagi. Panggilan untuk para penumpang yang hendak lepas landas ke Amsterdam.
“Jaga dirimu baik-baik.” Kata Justin lembut seraya
meremas tangan Stella.
“Justin—“
“Terimakasih untuk satu hari yang menyenangkan.
Terimakasih untuk musim panas yang luar biasa untukku."
“Justin aku tau aku tidak—“
“Dan berjanjilah padaku bahwa suatu saat nanti kita akan
saling mencintai. Dengan cara yang lain, pada musim panas yang lain…”
Stella tak berbicara lagi. Bibirnya seolah-olah terkatup
rapat. Ia hanya terus menatap wajah Justin ketika pria itu melepaskan remasan
tangannya dan memilih untuk mengusap kepala Stella beberapa kali.
“Sekarang pergilah.”
“Justin, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”
Justin mengangguk. “Anything.”
“Apakah semua
ini nyata? Maksudku—kau dan aku. Satu hari yang menyenangkan. Apakah itu semua
benar-benar nyata?”
Justin menatap Stella selama beberapa detik, menarik ulur
napasnya yang tampak tenang, kemudian menjilat bibirnya dan tersenyum pada
Stella sambil berkata, “Kau akan menemukan jawabannya suatu hari nanti. Semua
ini begitu rumit. Tapi kau harus tau bahwa cepat atau lambat, kau akan
mengetahui jawabannya.”
Tak ada yang bisa Stella lakukan kecuali mendengus kecil
dan tersenyum tipis padanya. Jawaban itu mungkin tidak cukup. Namun ada sesuatu
yang mendorongnya untuk mempercayai Justin. Mempercayai ucapannya. Dan
menganggap bahwa jawaban itu masih menggantung entah dimana.
“Kita
akan bertemu di musim panas yang lain, kan?”
Justin tersenyum, “Kita akan bertemu di musim panas yang
lainnya.” Jawabnya.
Stella mengangguk. Ia masih bingung akan semua yang sudah
menimpanya selama satu hari terakhir. Semuanya berjalan begitu cepat dan kilat.
Dan semuanya tampak begitu semu. Tampak begitu maya. Semuanya kelihatan tidak
nyata….
Namun Stella
memilih untuk berbalik dan pergi meninggalkan Justin. Ia tidak tau
bagaimana caranya Justin bisa berada di Bandara ini pada hari ini, namun ia
yakin keberadaannya disini karena ada suatu alasan.
Dan alasan itu akan membawanya ke suatu dimensi yang
lain. Ke sebuah pusaran yang lain. Ke sebuah dunia yang lain.
Dan ke sebuah musim panas menyenangkan berikutnya yang
akan ia jalani bersama Justin.
Jumat, 11 Oktober 2013
Somewhere Only We Know
So why dont we go?
Somewhere only we know?
Sepenggal lirik lagu dari grup band Keane yang berjudul Somewhere Only We Know mengalun lembut dari radio, membuatku menegakkan kepala dan otomatis menambah volume pada pengeras radio.
Aku tau lagu ini, atau lebih tepatnya mencintai lagu ini. Aku sama sekali tidak tau apa alasan dibalik mencintai lagu yang keluar hampir sepuluh tahun lalu, lagu yang keluar saat aku masih berusia tujuh tahun. Mungkin karena liriknya yang romantis, atau mungkin karena genre campuran counrty-alternative yang cuma Keane punya. Tapi mungkin juga alasan dibalik semua itu adalah karena lagu ini selalu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang entah masih mengingatku atau tidak. Seseorang yang sampai sekarang masih menghantui pikiran setiap kali aku melamun.
Sebut aku berlebihan karena selalu membesarkan pertemuan kita yang tergesa-gesa dan begitu singkat. Sebut aku norak karena menganggap kamu adalah orang yang selama ini aku tunggu, walaupun aku sama sekali tidak mengenalmu secara detail. Dan sebut aku bodoh karena mengira diriku sudah menyukaimu terlalu dalam, sampai tidak bisa mengeluarkan kamu dari isi otakku dan akhirnya memutuskan untuk menulisnya disini. Setiap hari pasti aku menerka-nerka; apakah kamu memikirkan aku sebesar aku memikirkan kamu?
Omong-omong soal pertemuan kita yang terlalu singkat, aku juga selalu menerka-nerka apa sebenarnya perasaan yang kusimpan padamu selama ini.
Cinta?
Bukankah definisi itu terlalu tabu? Bukankah definisi itu terlalu cepat disimpulkan mengingat pertemuan kita yang terlalu singkat? Bukankah aku terlalu saru untuk mengucapkannya dan bukankah kata itu terlalu ambigu?
Aku terus merenungkannya, mengingat kamu tidak pernah absen dalam daftar pikiran-pikiran melayang yang aku pikirkan setiap hari.
Semua orang pasti akan berkata bahwa aku terlalu bodoh karena sudah menyukai kamu. Mereka pasti akan berkata, bagaikan pungguk merindukan bulan. Tapi ingat ya, kamu bulannya, aku pungguknya. Rasanya terlalu sulit bagiku untuk meraih kamu. Rasanya mustahil bagiku, dan bagi kamu juga pastinya, bukankah begitu?
Tapi aku tau pertemuan itu sudah mengubah semuanya. Aku dan kamu dipertemukan bukan tanpa suatu alasan. Biar mereka berkata aku terlalu membesarkannya, tapi aku tau bahwa semua itu bukan kebetulan semata. Rasanya seperti magic, padahal aku hidup di kehidupan nyata, bukan di kehidupannya Alice yang tersesat di Wonderland. Tapi aku memang tau--aku selalu tau, bahwa aku dan kamu dipertemukan karena sebuah alasan. Sebuah alasan yang belum aku ketahui, sebuah alasan yang belum kutemukan karena aku masih berusaha mencarinya.
Dan saat kamu berkata, "kamu berbeda," aku baru menyadari bahwa kamu juga berbeda. Kamu yang seorang pendiam, yang jarang berbincang pada gadis, malam itu mencurahkan cerita-ceritamu padaku.
Lalu aku bertanya mengapa kamu menceritakan cerita itu padaku, kamu hanya menjawabnya sambil tersenyum dan berkata, "karena aku mempercayaimu." Dan aku merasa bahwa aku adalah seseorang yang paling bahagia, karena berkesempatan dipercayai olehmu. Tapi haruskah aku bangga? Haruskah aku senang karena kamu mempercayai aku karena menceritakan cerita-ceritamu?
Dan saat kamu berkata padaku lagi untuk menjanjikan sesuatu padamu, aku memilih untuk menggeleng dan menolaknya. Kamu justru memaksa dan berkata, "Berjanjilah saja." Saat itu, aku merasa luluh untuk yang kedua kalinya. Hingga akhirnya aku mengangguk sambil tersipu malu dan berkata dengan mantap, "Ya, aku berjanji."
Lupakan mereka yang menganggapku bermimpi karena sudah berbicara padamu dan berbagi semuanya padamu. Aku tidak peduli seberapa banyak orang yang menganggap aku gila karena mengaku-ngaku pernah dekat denganmu. Yang penting kamu tau yang sebenarnya.
Namun mngkin kamu sudah lupa denganku, tidak ingat siapa namaku, atau lupa tentang apa saja cerita yang sudah kita bagi berdua. Aku toh tidak menaruh banyak harapan. Aku hanya senang bisa berbincang denganmu, dan sialnya aku masih tidak bisa melepaskanmu dari otakku sampai sekarang.
Aku juga tidak tau perasaan apa yang saat ini menggelayuti hatiku buat kamu, dan aku mungkin tidak akan mencari tau. Biar waktu saja yang menjawab.
Dan, satu lagi.
Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu lagi. Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi, kan?
Somewhere only we know?
Sepenggal lirik lagu dari grup band Keane yang berjudul Somewhere Only We Know mengalun lembut dari radio, membuatku menegakkan kepala dan otomatis menambah volume pada pengeras radio.
Aku tau lagu ini, atau lebih tepatnya mencintai lagu ini. Aku sama sekali tidak tau apa alasan dibalik mencintai lagu yang keluar hampir sepuluh tahun lalu, lagu yang keluar saat aku masih berusia tujuh tahun. Mungkin karena liriknya yang romantis, atau mungkin karena genre campuran counrty-alternative yang cuma Keane punya. Tapi mungkin juga alasan dibalik semua itu adalah karena lagu ini selalu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang entah masih mengingatku atau tidak. Seseorang yang sampai sekarang masih menghantui pikiran setiap kali aku melamun.
Sebut aku berlebihan karena selalu membesarkan pertemuan kita yang tergesa-gesa dan begitu singkat. Sebut aku norak karena menganggap kamu adalah orang yang selama ini aku tunggu, walaupun aku sama sekali tidak mengenalmu secara detail. Dan sebut aku bodoh karena mengira diriku sudah menyukaimu terlalu dalam, sampai tidak bisa mengeluarkan kamu dari isi otakku dan akhirnya memutuskan untuk menulisnya disini. Setiap hari pasti aku menerka-nerka; apakah kamu memikirkan aku sebesar aku memikirkan kamu?
Omong-omong soal pertemuan kita yang terlalu singkat, aku juga selalu menerka-nerka apa sebenarnya perasaan yang kusimpan padamu selama ini.
Cinta?
Bukankah definisi itu terlalu tabu? Bukankah definisi itu terlalu cepat disimpulkan mengingat pertemuan kita yang terlalu singkat? Bukankah aku terlalu saru untuk mengucapkannya dan bukankah kata itu terlalu ambigu?
Aku terus merenungkannya, mengingat kamu tidak pernah absen dalam daftar pikiran-pikiran melayang yang aku pikirkan setiap hari.
Semua orang pasti akan berkata bahwa aku terlalu bodoh karena sudah menyukai kamu. Mereka pasti akan berkata, bagaikan pungguk merindukan bulan. Tapi ingat ya, kamu bulannya, aku pungguknya. Rasanya terlalu sulit bagiku untuk meraih kamu. Rasanya mustahil bagiku, dan bagi kamu juga pastinya, bukankah begitu?
Tapi aku tau pertemuan itu sudah mengubah semuanya. Aku dan kamu dipertemukan bukan tanpa suatu alasan. Biar mereka berkata aku terlalu membesarkannya, tapi aku tau bahwa semua itu bukan kebetulan semata. Rasanya seperti magic, padahal aku hidup di kehidupan nyata, bukan di kehidupannya Alice yang tersesat di Wonderland. Tapi aku memang tau--aku selalu tau, bahwa aku dan kamu dipertemukan karena sebuah alasan. Sebuah alasan yang belum aku ketahui, sebuah alasan yang belum kutemukan karena aku masih berusaha mencarinya.
Dan saat kamu berkata, "kamu berbeda," aku baru menyadari bahwa kamu juga berbeda. Kamu yang seorang pendiam, yang jarang berbincang pada gadis, malam itu mencurahkan cerita-ceritamu padaku.
Lalu aku bertanya mengapa kamu menceritakan cerita itu padaku, kamu hanya menjawabnya sambil tersenyum dan berkata, "karena aku mempercayaimu." Dan aku merasa bahwa aku adalah seseorang yang paling bahagia, karena berkesempatan dipercayai olehmu. Tapi haruskah aku bangga? Haruskah aku senang karena kamu mempercayai aku karena menceritakan cerita-ceritamu?
Dan saat kamu berkata padaku lagi untuk menjanjikan sesuatu padamu, aku memilih untuk menggeleng dan menolaknya. Kamu justru memaksa dan berkata, "Berjanjilah saja." Saat itu, aku merasa luluh untuk yang kedua kalinya. Hingga akhirnya aku mengangguk sambil tersipu malu dan berkata dengan mantap, "Ya, aku berjanji."
Lupakan mereka yang menganggapku bermimpi karena sudah berbicara padamu dan berbagi semuanya padamu. Aku tidak peduli seberapa banyak orang yang menganggap aku gila karena mengaku-ngaku pernah dekat denganmu. Yang penting kamu tau yang sebenarnya.
Namun mngkin kamu sudah lupa denganku, tidak ingat siapa namaku, atau lupa tentang apa saja cerita yang sudah kita bagi berdua. Aku toh tidak menaruh banyak harapan. Aku hanya senang bisa berbincang denganmu, dan sialnya aku masih tidak bisa melepaskanmu dari otakku sampai sekarang.
Aku juga tidak tau perasaan apa yang saat ini menggelayuti hatiku buat kamu, dan aku mungkin tidak akan mencari tau. Biar waktu saja yang menjawab.
Dan, satu lagi.
Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu lagi. Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi, kan?
Jumat, 09 Agustus 2013
FOREVER OURS - ONESHOOT - CERPEN
Hai! Kembali lagi sama saya, dan kali ini bersama sebuah oneshoot yang bisa dibilang paling normal daripada semuanya. Lol. So here is it. I hope you enjoy this story because
yeah—I write it with all my heart. I’d love to receive more reviews and
feedbacks, of course :) And yea, as usual, no copy cats without permission or credits ;) Happy jolly reading! xx
Tittle:
FOREVER OURS.
Written
by: Brigita Yo’ella Beta Shela
Genre: Romance-Hurt,
Eternal Friendship.
Suitable
for: 14 years and above.
Length: 1 PART –
ONESHOOT - 6000++ WORDS.
Inspired
by: Reality Show “Friendzone” on MTV, Crush by David Archuleta, and emh—someone
out there.
Casts: Justin Drew Bieber, Tayla Victory Mason,
Scarlett Nic Montez, and others.
Caution: All the plots, quotes, and
characters are belong to me. Just do not try to steal this oneshoot or my
kepongers will slap your mouth. Happy jolly reading! :)
***
“Selamanya akan jadi milik kita, bukan?”
Wisconsin,
Januari 2013.
Justin
Bieber menghembuskan napasnya secara tertahan, sedang berusaha untuk menahan
sebuah serangan dingin yang menyelimuti kedua tangannya ketika ia mencoba untuk
berjalan menyusuri sebuah taman. Ia menggosokkan kedua tangannya, lalu
memasukannya ke dalam kedua kantung jaket tebalnya dan terduduk di sebuah kursi
yang berada di taman.
Musim
dingin di Wisconsin memang selalu begini, selalu tampak memilukan dan dingin
setengah mati. Sehingga rasanya kupluk warna cokelat dan jaket tebal warna
hitam yang dikenakannya terasa tak bisa menahan rasa dingin yang hampir
meremukkan tulang-tulangnya. Justin Bieber lantas mengambil tindakan dengan
merogoh saku jaketnya, mengambil satu puntung rokok dari sebuah kotak dan
kemudian menyulutnya dengan api. Ia selalu merasa bahwa rokok bisa menyembuhkan
apa saja. Bisa mengusirnya dari rasa gusar, menghalau kepanikan yang
menjadi-jadi, dan yang pastinya membuat tubuhnya terasa jauh lebih hangat.
Jangan merokok. Aku benci melihatmu merokok.
Justin
Bieber mengangkat kepalanya, langsung terkesiap kaget begitu suara itu bergema
di seluruh isi otaknya. Ia menghisap rokoknya sekali lagi, lantas
menyelipkannya di antara jari telunjuk dan jari tengahnya ketika suara itu
menggema dan jatuh bertubi-tubi dalam pikirannya.
Aku benci melihatmu merokok, Justin. Jangan
lakukan itu lagi.
Justin
Bieber mendesis, memejamkan kedua matanya dan berharap suara itu akan segera
menghilang secara magical dalam
sebuah lubang kecil di otaknya. Namun suara itu nyatanya masih berada disana,
memaksanya untuk berhenti menghisap puntung rokok itu dan menjatuhkannya ke
tanah. Justin Bieber menggigit bibir bawahnya saat ia melihat sebuah siluet abstrak
dalam pikirannya. Lantas dengan secepat kilat ia membuka matanya dan akhirnya
membuang puntung rokok itu ke tanah yang berlapiskan es. Dan seperti sebuah
sihir, suara itu akhirnya tak terdengar lagi.
Justin
tau persis siapa pemilik suara itu. Dan ia paling tau pemilik suara itu begitu
benci saat ia ketahuan menyulut puntung rokok dan menghisapnya berulang kali.
Ia paling tau bahwa pemilik suara itu hanya berusaha untuk melindunginya,
berusaha mengingatkannya bahwa kebiasaan buruk itu memang sudah seharusnya
dimusnahkan. Dan ia juga tau bahwa pemilik suara itu benar-benar mencintainya,
meskipun ia tau bahwa sudah terlambat baginya untuk menyadari.
Justin
mendesah, lalu mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru taman yang sudah
hampir tak terurus ini. Hawa dingin masih terus mengusiknya ketika ia berusaha
untuk mengingat seluruh kejadian yang sering ia lewati di taman ini dulu.
Selamanya akan jadi milik kita, bukan? batinnya.
Justin
melenguh dan secara tiba-tiba, otaknya menyalurkan sebuah perintah untuk
mengingat semua kenangan itu… Sebuah permainan mengasyikkan yang selalu
membuatnya geli. Tangis pertama karena patah hati. Pelukan hangat yang tak
pernah dilewati. Janji-janji persahabatan yang tak pernah diingkari.
Harapan-harapan baru yang selalu muncul setiap hari. Dan sebuah cinta yang yang
muncul tanpa disadari.
Ia
paham betul bahwa tempat ini sudah jauh berubah sejak beberapa tahun lalu.
Semenjak ia meninggalkan Wisconsin dan pindah ke sebuah kota pewujud mimpi
bernama New York. Ia dalam hati meringis, menyadari betul bahwa seluruh kenangan
itu masih tersimpan rapi dalam memorinya.
Dan
kemudian janji-janji itu. Janji persahabatan yang akan selalu diingatnya. Janji
bahwa mereka akan selalu bersama selamanya. Janji bahwa mereka akan menaklukkan
dunia. Janji bahwa mereka akan saling menjaga apapun kondisinya. Dan juga janji
bahwa mereka tak akan pernah jatuh cinta pada akhirnya.
Namun
pada kenyataannya, janji itu memang diingkari, sehingga salah satu diantara
mereka merasa dikhianati. Lantas kalau sudah begini Justin bisa apa? Mengulangi
kembali seluruh kejadian yang tak akan pernah bisa diulang? Tentu saja
jawabannya tidak.
Karena
seperti apapun keadannya, janji memang hanyalah sebuah janji. Dan selamanya
pun, janji itu akan selalu diingkari….
--------
Wisconsin,
September 2006.
“Kepakkan
tanganmu, Tay!” ucap Justin setengah berteriak, “Gerakkan kakimu! Terus kayuh
dan tetap tahan napasmu di dalam air!”
Justin
mengigit bibir bawahnya, sementara matanya tertuju lurus pada seseorang yang
masih berada di kolam renang, sedang berenang menyeberangi kolam dengan
perlahan namun pasti. Justin mulai tersenyum saat seseorang itu sudah hampir
mencapai ujung kolam, namun ia mulai menyipitkan matanya ketika seseorang
itu mengangkat tangan dan kepalanya.
Lalu menyerukan namanya berulang kali dengan suara yang luar biasa tersengal.
“JUS-HTIN!”
ucap seseorang itu, sukses membuat Justin berlari menuju kolam dan langsung
menceburkan dirinya pada air kolam yang terasa dingin. Sempat terbersit rasa
cemas dan khawatir saat Justin menyaksikannya hampir tenggelam dan hampir
kehabisan napas. Namun Justin dengan professional mengepakkan tangannya di
dalam air, lalu meraih seseorang itu dan menariknya sampai ujung kolam.
“Tayla! Are you okay?” ucap Justin
ketika mereka berdua sudah terangkat dari air. Justin yang cemas luar biasa
lantas mendudukkannya di pinggiran kolam renang, menyaksikannya hampir
kehabisan napas dengan wajah yang merah bukan main.
“Tayla
jawab aku!” ketus Justin, “Apa kau baik-baik saja?”
Tayla
yang masih berada di pangkuan Justin lantas terbatuk, mengeluarkan sedikit air
dan mulai memegangi pundak Justin kuat-kuat. Dadanya terasa ngilu dan hidungnya
seakan-akan sudah meledak.
“Tayla!”
kata Justin lagi dengan suara sarat kekhawatiran, “Bicaralah!”
Tayla
memegangi pundak Justin sekali lagi, lalu menatapnya. “Dasar sinting!”
“Ah—syukurlah!”
desah Justin, lega karena akhirnya Tayla mampu angkat bicara. “
Kukira kau akan mati!”
Kukira kau akan mati!”
Tayla
terbatuk sekali lagi, lalu berusaha menatap Justin dengan tatapannya yang tajam
ketika Justin beringsut memeluknya dan menyematkan sebuah senyuman untuknya.
“Sahabat macam apa kau sehingga berharap aku mati?!”
Justin
mengerutkan keningnya. “Aku tidak berharap kau mati.” Katanya, “Aku hanya
mengira kau akan mati.”
“Itu
sama saja, bodoh!” tandas Tayla, lalu berusaha untuk duduk sambil terus
memegangi dadanya yang masih terasa ngilu. “Lagipula harus kubilang berapa kali
padamu bahwa aku tidak bisa berenang? Kau tau minggu lalu aku juga tenggelam di
tempat yang sama. Kau memang sinting karena kau menyuruhku untuk melakukannya
sekali lagi dan akupun hampir mati!”
Justin
tersenyum, lalu mengacak rambut Tayla yang setengah basah asal-asalan.
“Terserah saja apa katamu. Yang penting kau selamat!” kata Justin, lalu
mencubit kedua pipinya dan menariknya sesuka hati. Tayla mendengus, lalu
berusaha melepaskan kedua tangan Justin di pipinya ketika Justin menuntunnya
untuk berdiri dan berjalan ke sebuah tempat duduk yang ada di pinggir kolam
renang.
Tayla
dan Justin memang selalu begini. Mereka selalu bertengkar oleh masalah-masalah
kecil, selalu adu mulut dan saling
mengejek, namun pada akhirnya mereka akan kembali dan menyadari bahwa mereka
tidak bisa hidup tanpa satu sama lain.
Mereka
memang bersahabat. Persahabatan yang penuh warna itu mereka awali sejak empat
belas tahun yang lalu, saat usia mereka masih sama-sama empat tahun di pre-school. Waktu itu Tayla sedang
kebingungan di sekolahnya, mencari pasangan untuk diajak bergandengan tangan
untuk menyusuri lapangan sekolah karena memang begitulah peraturannya; mereka
harus mencari pasangan untuk bergandengan tangan dan tak diperbolehkan pulang
jika tidak melakukannya. Dan tanpa diundang, Justin akhirnya datang, dengan
giginya yang ompong dan rambut yang berwarna kuning terang. Dengan lugunya
Justin mengambil tangan Tayla dan menariknya untuk berjalan menyusuri lapangan
sekolah sebelum akhirnya diperbolehkan untuk pulang.
Dan
semenjak kejadian itu, Tayla selalu menghampiri Justin dan mengajaknya bermain
bersama. Mereka mempunyai satu kebiasaan untuk mengunjungi sebuah taman yang
ada di dekat sekolah jika kedua orang tua mereka terlambat menjemput. Dan
rutinitas itu masih mereka lakukan sampai sekarang, sampai mereka sama-sama
berusia delapan belas tahun dan mulai mengakhiri
masa SMA mereka yang menyenangkan.
Tayla
terbatuk sekali lagi, lalu mulai mengambil handuk yang berada di sebuah kursi
sebelum akhirnya mengusapkannya pada rambutnya yang basah. Ia mengambil sebotol
air minum, lalu meneguknya hingga tak bersisa dan kemudian menghampiri Justin.
“Apa
kabar Harvard?” kata Tayla sambil menyipitkan matanya, kemudian duduk di
sebelah Justin.
“Baik-baik
saja. Mereka sepertinya sudah tak sabar untuk menyambutku sebagai mahasiswa
baru.” Jawab Justin seraya mengedikkan bahu, “Apa kabar Notre Dame?”
Tayla
terkekeh, kemudian melemparkan pandangannya ke kolam renang pribadi milik
keluarga Justin sembari memikirkan sesuatu. Sebenarnya saat-saat ini bukanlah
saat yang tepat untuk membahas tempat kuliah apa yang akan mereka naungi nanti.
Saat ini adalah saat-saat yang tepat bagi mereka untuk menghabiskan waktu
sebagai sepasang sahabat—sebelum akhirnya mereka harus berpisah karena Harvard
terletak di New York sementara Notre Dame terletak di Indiana.
“Kau
tau bahwa aku membenci perbincangan ini, Justin.” Kata Tayla, lalu mendesah.
“Kau
hanya tidak mau menerima kenyataan bahwa kau harus berpisah denganku,” kata
Justin sambil menyengir kuda, “Itu kenyataannya.”
Tayla
memelototinya dengan tatapan sarkastik, lalu menoyor kepala Justin sebelum
akhirnya berkata, “Kau juga tidak akan bisa hidup tanpa aku.” Tandasnya, “Aku
tak bisa membayangkan hidupmu yang begitu hampa tanpa kehadiran sahabatmu yang
paling cantik ini. Selama empat tahun kedepan, tidak akan ada yang bisa
membuatmu tertawa lepas. Tidak ada yang akan datang kerumahmu jam tiga pagi
hanya untuk sebuah panekuk cokelat. Yaampun—pasti hidupmu luarbiasa hampa tanpa
kehadiranku.”
Justin
tergelak seketika, lalu menggelengkan kepalanya saat ia berjalan menuju sisi
kolam renang dan mengambil sekotak rokok yang terletak disana.
“Kau
tau aku menyayangimu, Tay,” ucap Justin, lalu menyelipkan sepuntung rokok di
bibirnya. “Namun bisakah kau berhenti mengatakan bahwa aku memang tidak bisa
hidup tanpamu?”
“Sudah berapa kali kubilang untuk tidak
merokok? Apa gunanya merokok, sih?”
Justin
menyipitkan kedua matanya, lalu berusaha untuk menyalakan pemantik api. “Kenapa
kita jadi merubah arah pembicaraan?”
“Kau
yang membuat arah pembicaraan jadi melenceng drastis.” Katanya, “Jangan
merokok, aku benci melihatmu merokok.”
Justin
mengangkat kedua alisnya, lalu bersiap untuk membuka mulut ketika ia mendengar
ponselnya berdering nyaring. Justin lantas
berjalan menuju sebuah meja yang ada di pinggir kolam, kemudian mengusap
ponselnya setelah sebelumnya sempat mengangkat telunjuknya—memberikan tanda
untuk Tayla bahwa ia harus diam sejenak.
“Hallo?”
kata Justin, lalu tiga detik kemudian senyumannya merekah. “Scarlett? Oh—hai!”
Tayla
diam-diam memutarkan kedua matanya, langsung mendengus hebat saat Justin
tiba-tiba berjalan menjauhinya untuk berbicara dengan Scarlett Montez—mantan flyer dan kapten cheerleader sekolah yang memiliki dada serta bokong yang besar.
Justin sudah lama menyukai Scarlett Montez, namun entah mengapa menjelang
kelulusan ini mereka baru bisa dekat. Tayla hanya bisa memiringkan senyumnya
ketika suatu kali Scarlett diboyong Justin ke markas mereka, dan menghabiskan
waktu di markas yang tak lain dan tak bukan adalah taman kesayangan mereka
dengan bermanja-manjaan bersama Justin.
Kalau
boleh jujur, dari dalam hatinya yang paling dalam, Tayla sama sekali tidak
menyukai Scarlett. Bukan karena dia seorang flyer,
dan bukan juga karena bokong dan dadanya yang seksi.
Tapi
karena Scarlett sudah berhasil merebut hati Justin sementara ia masih disini,
di tempat yang sama dan sama sekali tak bergerak untuk bisa meraih hati Justin
yang tak akan pernah terbuka untuknya.
“Scarlett
bilang apa?” tanya Tayla kemudian mendongak sesudah Justin muncul di hadapannya
dengan senyuman dan binaran lain di wajahnya.
“Dia
menerimanya, Tayla!”
Tayla
menegang seketika. “Menerima—apa?”
“Menerima
ajakanku untuk pergi ke prom!” kata Justin setengah berteriak, kemudian ia
menjerit histeris dan langsung memeluk tubuh Tayla. Rokok itu sudah hilang
entah kemana ketika akhirnya ia berteriak, “Akhirnya mimpiku terwujud juga
untuk pergi ke prom bersamanya!”
Tayla
merasakan sesuatu yang menohok ulu jantungnya saat Justin merengkuhnya dan
mengguncang-guncangkan tubuhnya. Perasaan ini bukan perasaan pertama yang ia
rasakan saat ia harus mendengar nama Scarlett terucap dari bibir Justin.
Mungkin ini adalah rasa sesak yang ke seribu karena ia harus memendam perasaan
itu. Perasaan cinta, yang entah
bagaimana caranya bisa menelusup dan hadir diantara persahabatan mereka.
“Dan
sekarang ia mengajakku untuk pergi ke bioskop. Aku akan bersiap-siap sekarang,
karena aku berjanji untuk menjemputnya satu jam lagi.” Sambung Justin ketika ia
melepaskan pelukan Tayla.
Tayla
memiringkan senyumnya, lalu mengangguk satu kali. “You better be ready.”
“I know,” kata
Justin, “Kau tidak apa-apa jika harus pulang sendiri ke rumah?”
“I’ll be fine.” sahut Tayla dengan suara
tertahan, “Aku bisa jalan kaki.”
Justin
menarik bibirnya, lalu mengacak rambut Tayla asal-asalan sebelum akhirnya
berdiri dan beranjak meninggalkan Tayla.
“Dan
oh—Tayla, kita ke markas, ya, nanti malam? Hitung-hitung untuk bercerita tentang sesi menontonku dengan Scarlett.
Boleh, kan?”
Tayla
mengangguk dua kali, lalu tersenyum mantap. “Of
course.”
“Perfect!” katanya, “I’ll be there at 7! See you, then!”
Tayla
mengangguk sekali lagi, lalu mulai memandangi punggung Justin yang makin lama
makin menjauh sebelum akhirnya menghilang di tikungan sebuah pilar. Tayla
mendesah, lalu mulai merasakan rasa itu menyebar lagi di dadanya. Perasaan
berkecamuk—orang-orang menyebutnya rasa cemburu, yang selalu saja hadir jika ia
melihat senyuman itu tersemat di bibir Justin.
Dan
rasanya ia sama sekali tidak bisa menerima bahwa Justin lebih menomorsatukan
Scarlett daripada dirinya, yang jelas-jelas sudah berada disini sejak awal. Yang
jelas-jelas selalu berada di sisinya dalam semua keadaan yang ditempuh Justin.
Dan yang
jelas-jelas mencintainya walaupun Justin sama sekali tak menyadarinya…
Ia
bahagia jika Justin bahagia, namun ia akan lebih bahagia jika dirinyalah alasan
dibalik senyuman indah milik Justin. Tapi… melihat Justin bahagia dan tersenyum
karena Scarlett kadang-kadang membuatnya pesimis dan memilih untuk mundur. Bukankah
semua orang ingin melihat orang yang dicintainya tersenyum karena dirinya
sendiri?
-----------
Tayla
sedang terduduk di kursi taman, sedang asik memilah-milah dan membuka ranselnya
yang hampir penuh oleh barang-barang sembari menunggu kedatangan Justin. Ransel
itu berisi macam-macam barang penting yang sudah dibawa Tayla kemana-mana. Termasuk
salah satu kaset yang berisikan sebuah penuturan dan pengakuan bahwa Tayla
mencintai Justin.
Kaset
itu berisikan video amatir yang Tayla rekam sekitar tiga tahun lalu, saat
mereka akan menginjakkan kaki di SMA. Video itu hanya berdurasi tiga menit.
Menampilkan wajah Tayla yang pias dan berkeringat setelah sebelumnya berlatih
ratusan kali di depan cermin. Dan akhirnya dengan segala ketakutan dan sebuah
tekad yang bulat, Tayla bisa mengatakan perasaannya pada Justin melalui video
itu.
“Hi Justin. It’s Tayla. Yeah—I know its
weird, but I have to tell you about this before its too late. Before its really
too late.” Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya Tayla menunduk dan
menarik nafasnya, lalu mengangkat kepalanya dan menatap lurus kearah kamera.
“I love you. Kau mungkin akan berkata bahwa
aku benar-benar bodoh karena sudah mengatakan ini padamu. Namun aku juga benar-benar tau bahwa aku memang sudah seharusnya
mengatakan ini. Aku tau semua ini terasa salah, dan aku tidak tau sejak kapan
perasaan itu mulai muncul dan hadir di tengah-tengah persahabatan kita. Tapi
aku yakin bahwa perasaanku ini nyata. Bukan khayalan semata atau sebuah ilusi
yang membuatku mendadak buta. Pada kenyataannya aku memang mencintaimu, dan
jangan tanyakan apa alasannya karena aku juga tidak tau mengapa.”
Dan
video itu diakhiri dengan sebuah desahan dan senyuman tipis sebelum akhirnya
Tayla berkata lagi, “I do really love
you.”
Tayla
menarik napas panjang, berusaha mengatur napasnya yang mendadak terasa tak
karuan begitu memorinya berputar dan jatuh pada video itu. Video yang
seharusnya sudah ia berikan pada Justin sejak tiga tahun yang lalu, namun masih
tetap membeku di dalam sela ranselnya yang ia sembunyikan rapat-rapat. Tayla
sudah berusaha keras untuk memberikan video itu pada Justin pada waktu-waktu
yang tepat, namun Tayla selalu gagal dan tak pernah mau mengumpulkan keberanian
untuk memberikannya pada Justin.
Tayla
tau semua ini salah. Tayla tau bahwa semua ini seharusnya tak pernah terjadi.
Dan ia paham betul bahwa mencintai Justin bukanlah sebuah pilihan yang tepat
jika mengingat Justin adalah sahabat terbaiknya. Sahabat yang sudah menemaninya
selama empat belas tahun terakhir, seorang sahabat yang tak akan pernah menjadi
kekasihnya…
“Hi
Tayla!”
Tayla
hampir meloncat dan melemparkan kaset yang ada di tangannya ketika suara itu
menyeruak di sebelahnya, menampilkan Justin yang tampak terengah-engah dan
langsung duduk di sebelahnya. Tayla menarik napas dalam-dalam, lalu segera memasukkan
video itu ke dalam ranselnya—satu-satunya benda yang bisa ia raih dalam
jengkalan jari.
“Are you okay, Tay?
Tayla
meneguk ludah. “I’m absolutely fine.”
Justin
mengangguk, lalu tanpa menyimpan rasa curiga secuilpun, Justin langsung
tersenyum lebar pada Tayla. “I kissed
her.”
Tayla
mendadak membelalakkan matanya, hampir tersedak oleh air liurnya sendiri. “You—what?!”
“Yeah—aku
menciumnya. Tepat di depan halaman sebelum dia memasuki rumah. Dan itu… French
kiss. Geez, Tayla! Dia benar-benar pencium yang handal!”
Tayla
mengerjapkan mata, merasakan sesuatu telah berdiri hebat di sekitar tengkuknya,
bereaksi seperti sengatan listrik ketika jantungnya seakan-akan memacu darah
dua kali lebih cepat daripada biasanya. Dadanya seakan-akan menyempit,
bergelenyar dan membuatnya kesulitan bernapas, namun bibirnya tetap berusaha
untuk menyunggingkan senyuman tipis untuk Justin.
“Congratulation,” kata Tayla, suaranya
benar-benar terjepit sehingga terdengar seperti bisikan lirih. “Kau memang
pantas mendapatkan ciuman itu.”
“Haha! I know.” Kata Justin, lalu
berdalih dan memandangi langit di luar sana yang tampak gelap dan ditaburi
bintang-bintang. “Ini bukan ciuman pertamaku. Tapi entah mengapa aku merasa
bahwa dia benar-benar mencintaiku, Tay.”
Tayla
menggigit bibir bawahnya, berusaha mati-matian menahan setitik air mata yang
bermuara di sudut matanya. “Dia pasti menciummu dengan panas.”
“Emh—dia
memang panas.” Katanya, lalu tertawa kecil. “Sekali-kali kau harus mencium
seorang pria, Tay. Kau pasti akan merasa bahwa duniamu jungkir balik tidak
karuan. Ciumlah Freddie atau Chris, aku yakin mereka ingin menciummu juga.”
Tayla
berusaha untuk tertawa saat Justin memandangnya dengan tatapan jenaka. Namun
yang bisa dilakukannya hanya tersenyum masam, lalu mati-matian menyembunyikan
matanya yang berair untuk tidak menetes. Ia memang belum pernah mencium pria
sebelumnya, karena satu-satunya pria yang ingin diciumnya hanyalah Justin. Hanya Justin seorang.
“Omong-omong
soal Scarlett, aku juga ingin bilang padamu bahwa aku sudah menyewa limosin
untuk pergi ke prom,” kata Justin, lalu beranjak dari kursinya dan duduk di
rerumputan taman—yang dilanjutkan dengan tiduran seenaknya disana.
Tayla
mengikuti kegiatannya, berbaring persis di sebelah Justin. “Kedengarannya
menyenangkan.” Katanya, sedikit bersyukur karena sejumput air mata yang ada di
sudut matanya sudah menyusut.
“Kedengarannya
lebih dari menyenangkan,” kata Justin, lalu mengambil sepuntung rokok dari saku
kemejanya dan menyalakannya dengan pemantik api. Tayla memutarkan kedua bola
matanya keatas, lalu mengambil puntung rokok itu dan mematikannya di rumput
yang segar.
“Hey,
apa-apaan?!” kata Justin protes.
“Aku
benci melihatmu merokok.”
“Oh—come on, Tay!”
“Apa?
Aku sudah bilang padamu untuk berhenti merokok, kan? Merokok itu sama sekali
tidak berguna. Aku benci melihatmu merokok.”
Justin
mengernyit, lalu mendesah ringan. “Kau daridulu selalu seperti ini. Kau lebih
terdengar seperti ibuku, kau tau? Padahal ibuku juga tidak terlalu
mempermasalahkannya.”
Kali
ini Tayla tersenyum. “Aku hanya ingin yang terbaik untukmu.”
“Oh. Whatever.”
Dan kemudian
hening. Yang terdengar hanyalah suara deru mobil yang ada di kejauhan, lalu
suara jangkrik yang mengikik bersautan. Kedua sahabat itu memandang keatas, ke
sebuah langit malam yang bertaburan bintang dengan bibir yang saling mengatup
rapat. Mereka daridulu memang sering melakukan hal ini—memandangi langit malam
di markas kesayangan. Dan entah mengapa, walaupun mereka memang sering
bertengkar untuk hal-hal yang kecil, mereka akan selalu berbaikan dalam waktu
yang bisa dibilang berdekatan.
“Justin?”
“Mm.”
“Kau
masih ingat janji persahabatan kita beberapa tahun yang lalu disini?”
Perkataan
Tayla membuat Justin menoleh, lalu segera menatapnya yang saat ini masih
memfokuskan pandangan ke langit yang gelap. “Janji bahwa kita akan selalu
bersama selamanya? Janji bahwa kita akan menaklukkan dunia dan saling menjaga apapun
kondisinya? Juga janji bahwa kita tak akan pernah jatuh cinta pada akhirnya?”
Tayla
ikut-ikutan menoleh, lalu mengangguk samar. “Kupikir kau sudah melupakannya.”
“Aku
tidak mungkin melupakan janji persahabatan kita.”
Tayla
tersenyum, lalu meletakkan kepalanya di pundak Justin sementara matanya
menerawang jauh ke langit yang tak berujung. “Selamanya akan jadi milik kita,
bukan?”
Tayla
bisa mendengarnya terkekeh kecil, dan tanpa melihatpun, ia juga tau bahwa saat
ini Justin sedang menyematkan sebuah senyuman. “Ya. Selamanya akan jadi milik
kita.” Katanya.
Tayla
tersenyum, lalu merasakan bahwa ada sesuatu yang saat ini sedang menyelimuti
tangannya. Itu tangan Justin. Tangan Justin sedang menggenggam tangannya, dan
meremasnya dengan lembut. Kalau Tayla bisa, rasanya ia ingin suasana ini
membeku begitu saja—membiarkan kepalanya terkulai bebas di pundak Justin,
membiarkan tangannya di genggam secara gamblang olehnya…
Tayla tersenyum kecil, lantas menutup kedua
matanya, mengubur hidungnya di pundak Justin, membuatnya bisa mencium aromanya
yang lembut.
Kau
tidak tau bahwa aku sudah mengingkari janji itu, Justin. Ya, karena pada akhirnya
aku jatuh cinta padamu.
Tayla
tau betul bahwa selamanya ia tidak bisa memiliki Justin. Namun dengan cara
seperti ini… ia yakin bahwa semuanya akan berjalan dengan baik-baik saja. Dan
ia juga yakin—yakin seratus persen, bahwa selamanya Justin akan tetap menjadi
miliknya.
---------
Pesta
dansa SMA Saint Regina tahun ini memang benar-benar megah dan meriah.
Mengusung
tema red carpet, semua siswa tampak
tampil dengan anggun dan menawan. Hampir semua siswa menggandeng pasangan
mereka masing-masing, dan juga menyewa sebuah limosin untuk acara yang hanya
bisa dirasakan sekali seumur hidup itu. Tayla datang bersama Adam Wiskosnov—salah
satu temannya yang berdarah Rusia karena kebetulan Adam juga tidak bisa menemukan teman kencannya.
Sementara Justin datang bersama Scarlett, menggunakan limosin, dan mereka berdua benar-benar terlihat seperti
selebriti sungguhan saat menjejakkan kaki di red carpet.
Tayla
hanya mengenakan blus gaya vintage
warna biru muda yang dibungkus dengan cardigan warna biru tua, juga tatanan
rambut yang diikat sederhana. Sedangkan Scarlett—ia tampil dengan sepatu hak
tinggi keluaran baru dari Louis Vuitton, yang dipadupadankan dengan gaun mewah
rancangan Sherri Hill. Ia memang benar-benar seorang selebriti—paling tidak,
untuk malam ini saja. Tayla jadi ingat pertemuan memalukannya beberapa hari
lalu dengan Scarlett di salah satu mall di pusat kota Wisconsin. Tayla yang
saat itu sedang membuka-buka isi ranselnya tiba-tiba saja harus menabrak
seseorang karena tidak melihat ke depan—dan orang itu adalah Scarlett. Tadinya ia
memang sedang mengaduk habis isi tasnya karena tidak bisa menemukan ponselnya
yang kala itu berbunyi nyaring. Namun sesaat setelah ia menabrak Scarlett,
jadilah seluruh barangnya tercecer di lantai.
“Maaf,”
kata Tayla waktu itu, tangannya dengan cekatan mengambil beberapa barang yang
tercecer.
“It’s okay.” Scarlett menjawab, lalu berusaha membantu
Tayla memunguti barang-barangnya.
Mereka
tidak banyak berbicara kala itu, karena Tayla tau bahwa sebenarnya Scarlett
tidak terlalu suka padanya—hanya karena ia adalah sahabat Justin. Namun setelah
selesai memasukkan barang-barang Tayla ke dalam ransel, Scarlett sempat
mengangguk kecil dan Tayla membalasnya dengan ucapan terimakasih yang bertubi-tubi.
Dan
sekarang, Tayla bisa melihat jelas bahwa Scarlett tengah berada di lantai dansa
bersama Justin. Mereka berdansa sambil tertawa lepas—dengan kedua tangan Justin
yang dilingkarkan di pinggangnya dan terkadang turun nakal sampai bokongnya.
Tayla mendengus, lalu menoleh dan menatap kearah Adam yang saat ini tengah
membaca salah satu novel karya John C. Maxwell. Tayla tau persis bahwa Adam
tidak akan pernah mau memboyongnya ke lantai dansa dan mengajaknya menari
disana. Tayla sudah cukup beruntung karena Adam mau menyewa mobil Volvo
keluaran tahun 1979 hanya untuk menjemputnya malam ini. Dan ia juga cukup beruntung bahwa akhirnya
ada satu pria yang bisa diajaknya ke prom, walaupun orang itu adalah kutu buku
yang jelek layaknya Adam Wiskosnov sekalipun.
“SAATNYA
PENGUMUMAN UNTUK RAJA DAN RATU PROM!”
Tiba-tiba
saja musik berhenti mengalun, digantikan oleh suara Agatha Gerald—salah satu
siswa junior yang menjadi pembawa acara pada malam hari ini. Tayla melayangkan
pandangannya lagi pada Justin dan Scarlett yang secara tiba-tiba melepaskan
kaitan tubuh mereka, dan langsung menghadap kearah panggung yang ditata
sedemikian gemerlap. Tanpa harus melihat kearah Adam yang masih membaca
bukupun, Tayla sudah berdiri dan memboyong dirinya sendiri untuk ikut-ikutan
maju dan menjadi saksi resmi atas siapa raja dan ratu prom tahun ini. Dalam
hati, ia berseru sebegitu nyaring serta yakin seratus persen bahwa Raja Prom
tahun ini adalah sahabatnya—Justin Drew Bieber, yang selama tiga tahun
berturut-turut menjabat sebagai kapten basket sekolah dan digandrungi
gadis-gadis. Tayla yakin semua gadis telah menuliskan nama Justin untuk
dinobatkan sebagai Raja Prom malam ini. Namun Tayla masih ambigu akan siapa
yang akan dinobatkan sebagai Ratu Prom. Ia sama sekali tidak bisa memilih siapa
yang akan menjadi pasangan Justin karena ia selalu berharap bahwa dialah yang
akan mendampinginya. Namun semua itu mustahil, mengingat bahwa Tayla bukanlah
siswa populer dan bukan kapten cheerleader yang berdada montok dan berbokong
seksi. Ia hanya bersahabat dengan
pria tampan yang menjadi sorotan seantero sekolah, hingga namanya pun kerap
kali terangkat bila hal itu mengungkit nama Justin.
“Kalian
semua sudah menuliskan dan memilih siapa yang pantas menjadi Raja dan Ratu Prom
malam ini. Dan setelah menghitung banyaknya suara, kami telah memutuskan siapa
yang berhak menjadi Raja dan Ratu Prom!” kata Agatha penuh semangat, dan semua
siswa sedetik kemudian bersorak, tak sabar menunggu siapa yang akan menjadi
Raja dan Ratu Prom.
“AND
THE KING OF TONIGHT’S PROM IS…..” Agatha sengaja menggantungkan perkataannya
ketika semua orang mengatupkan bibirnya. “THE ONE AND ONLY, JUSTIN BIEBER!”
Semua
orang bersorak dan memekikkan nama Justin, tak urung Tayla yang ikut-ikutan
menyerukan namanya. Justin yang tampak begitu sempurna dalam balutan tuksedo
lantas maju keatas panggung, dan tersenyum bagi siapa saja yang
dilihatnya—termasuk Tayla, Justin sempat mengedipkan satu mata kearahnya.
“Kira-kira,
siapa ya yang akan mendampingi Justin?” Agatha angkat bicara lagi, sukses membuat
kerumunan mendadak diam. “The queen of tonight’s prom is…,” Agatha membuka
amplop, lalu senyuman lebarnya merekah begitu saja. “SCARLETT NIC MONTEZ!”
Tayla
melenguh.
Benar-benar pasangan yang cocok, batinnya
sengit. Tayla agak sedikit menyunggingkan senyum kecut ketika Scarlett naik
keatas panggung, dan ia langsung memeluk Justin saat sudah benar-benar berada
diatasnya.
Kapten
basket dan kapten cheerleader, dengus Tayla, lalu memutarkan kedua
bola matanya dan kembali melanjutkan, seperti
tidak ada wanita yang lebih dari Scarlett saja.
“Dan
marilah kita berikan waktu bagi mereka untuk berdansa bersama di lantai dansa!
Ingat, ya! Hanya boleh mereka yang berdansa!”
Tayla
segera berjalan menjauh ketika kerumunan membelah, menyisakan Scarlett dan
Justin yang sudah dimahkotai oleh mahkota plastik di lantai dansa. Ia agak
sedikit menjinjit saat beberapa orang yang kelewat bongsor menutupi
pandangannya. Dan ketika musik pelan nun romantis tengah mengalun, Tayla merasa
bahwa saat itu juga hatinya berdenyut ngilu. Disana ia melihat Scarlett dan
Justin, berdansa dengan penuh kemesraan dan keintiman yang nyata di lantai
dansa. Justin memegangi pinggul Scarlett, lalu menggeranyangi punggungnya
ketika Scarlett meletakkan kepalanya di bahu Justin. Tayla merasa hatinya mencelos,
seakan-akan hatinya kebas dalam sekali libas.
Ia ingin
berada di lantai dansa itu, bersama
Justin yang mencintainya.
Tayla
berusaha mengatur napasnya yang naik turun tidak karuan, seakan-akan
pundi-pundi parunya menyempit dan tidak dapat menghirup oksigen lagi. Saat
musik yang mengiringi Justin dan Scarlett hampir berhenti mengalun, Tayla bisa
merasakan bahwa ia memegangi dadanya sendiri karena pada saat itu juga Justin
mencium Scarlett, tepat di bibir, tepat di depan khalayak banyak. Semua
orang bersorak, bahagia karena melihat dua anak populer yang mereka pilih
sebagai Raja dan Ratu Prom sedang berciuman layaknya pecinta yang dimabuk
asmara.
Tayla
menggigit bibirnya, lalu segera saja pergi darisana sebelum kesakitannya
bertambah banyak dan makin menjadi-jadi. Ia sudah tidak sanggup melihat Justin
dan Scarlett. Ia tidak sanggup merelakan Justin jatuh ke tangan Scarlett. Ia
tidak sanggup jika sahabatnya yang dicintai akan meninggalkannya untuk gadis
lain...
Ia tidak bisa merelakan Justin…
“Attention, senior!” suara Agatha Gerald
kembali terdengar saat Tayla sudah ada di sebelah Adam yang masih asyik
membaca, lalu menegak minuman soda berwarna kuning kemerahan yang disediakan. Ia
berusaha mabuk dan lupa akan kejadian di lantai dansa sepuluh menit yang lalu,
padahal minuman itu sama sekali tidak beralkohol. Suara gemuruh siswa-siswa
akibat ciuman panas Justin dan Scarlett terpaksa berhenti ketika Agatha
mengambil mikrofon dan kembali mengambil alih.
“Kita
punya tayangan menarik dari sang Ratu Prom. Ternyata Scarlett sudah repot-repot
mau membuat sebuah video perpisahan untuk kita semua!”
Kening
Tayla berkerut seiring dengan alis semua siswa yang melengkung naik. Mereka
semua tau betul bahwa Scarlett sama sekali tidak bisa mengoperasikan komputer
dengan baik, apalagi sampai bisa membuat sebuah video yang layak
dipertontonkan. Video perpisahan yang lumayan susah dibuat tentunya patut
dipertanyakan.
“Silakan
menyaksikaaaaan!” kata Agatha ceria, lalu semua mata tertuju pada layar proyeksi
yang ada di sebelah panggung, termasuk mata Justin, Tayla, dan tentunya mata
kehijauan milik Scarlett.
Sempat
ada jeda beberapa detik sebelum video itu berjalan dan seseorang dengan wajah
yang pias dan luarbiasa pucat mengisi layar proyeksi yang lebar.
Tayla
membulatkan kedua matanya lebar-lebar. Ya Tuhan. Ia… ia tau persis dimana video
ini pernah diambil… Ia… tau persis siapa yang akhirnya berbicara dalam video
amatir tersebut. Dan video itu jelas-jelas bukan sebuah video perpisahan yang
dibuat oleh Scarlett.
“Hi Justin. It’s Tayla. Yeah—I know its
weird, but I have to tell you about this before its too late. Before its really
too late.”
Tayla
merasa bahwa saat itu juga setetes keringat tengah mengaliri leher hingga ke
punggungnya, hingga semuanya terasa bagai sengatan listrik saat semua orang
berbisik dan tak sedikit pula yang melongo saat melihatnya. Video itu… adalah
video amatir yang selalu tersimpan di dalam ranselnya… Video itu adalah video
yang menyatakan perasaannya tentang Justin…
“I love you. Kau mungkin akan berkata bahwa
aku benar-benar bodoh karena sudah mengatakan ini padamu. Namun aku juga benar-benar tau bahwa aku memang sudah seharusnya
mengatakan ini. Aku tau semua ini terasa salah, dan aku tidak tau sejak kapan
perasaan itu mulai muncul dan hadir di tengah-tengah persahabatan kita. Tapi
aku yakin bahwa perasaanku ini nyata. Bukan khayalan semata atau sebuah ilusi
yang membuatku mendadak buta. Pada kenyataannya aku memang mencintaimu, dan
jangan tanyakan apa alasannya karena aku juga tidak tau mengapa.”
Semua
orang terperangah, tak terkecuali Justin yang saat ini masih bergandengan
dengan erat bersama Scarlett di lantai dansa. Tayla yakin saat ini semua orang
tengah memandangnya, membisikkan sesuatu yang buruk dengan lawan bicara yang
lain. Tayla merasa bahwa tiba-tiba matanya panas, dan sudut matanya sudah
bermuara dan sudah bersiap untuk mengeluarkan setitik air mata ketika video itu
akhirnya diakhiri dengan perkataan, “I do
really love you.”
Dan kemudian
semuanya gelap.
Setelah
itu, suara benar-benar hampir tidak terdengar kecuali bunyi bisikkan superlirih
dari berbagai sumber. Mereka semua sedang membahas dan membicarakan satu hal
sesudah selesai menyaksikan video itu; Tayla
Victory Mason, jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.
Tayla
menggigit bibir bawahnya, sama sekali tidak bisa berbohong bahwa hatinya kali
ini benar-benar terasa perih. Bagaimana video itu bisa ada disana? Bagaimana
video itu bisa ada di acara prom ini? Dan bagaimana caranya video itu bisa
keluar dari dalam ranselnya yang selalu ia tutup rapat-rapat? Pertanyaan itu
memburunya bertubi-tubi, hingga akhirnya kerumunan membelah dan menciptakan
sebuah ruang bagi Justin sehingga ia bisa melihat Tayla yang saat ini tengah
terisak. Tayla menatap Justin yang menatapnya dengan tatapan luarbiasa tidak
percaya, lalu pandangannya jatuh pada Scarlett dengan senyuman licik yang
tersemat disana. Dan pada saat itu pulalah Tayla menemukan jawabannya. Dan pada
saat itu pulalah Tayla sadar bahwa selama ini dirinya dijebak… Dijebak oleh
seorang Scarlett Montez yang mencuri kasetnya saat mereka bertabrakan di mall
tempo hari.
Tayla
merasa hatinya kebas. Rahasianya sudah terbongkar…
Ia sudah mengingkari janjinya bersama Justin…
Justin
yang ada di lantai dansa lantas menatap Tayla dengan sebuah siratan yang selama
ini tak pernah ditunjukkannya. Tayla tengah menangis… pundaknya naik turun, dan
hal itu sukses membuat Justin ingin memeluknya saat itu juga. Tapi ia tidak melakukannya.
Ia hanya berdiam diri disana, memandangi Tayla
dengan tatapan yang sama seperti orang banyak. Ia hanya berdiam diri disana,
menyaksikan sahabatnya sedang mengalami sebuah kejadian yang membuatnya hancur,
hanya karena ia jatuh cinta padanya.
Justin
tidak pernah menyangka bahwa persahabatan yang sudah dibinanya bersama Tayla
selama lebih dari sepuluh tahun harus diakhiri dengan Tayla yang pada akhirnya
jatuh cinta padanya. Ia sama sekali tidak tau bahwa Tayla mencintainya… Bahwa
Tayla sudah menyimpan perasaan itu selama bertahun-tahun… Bahwa Tayla
mengingkari janjinya, karena pada
akhirnya ia jatuh cinta pada Justin.
Justin
masih memandangi Tayla, tak bergerak dan tak bergeming ketika gadis itu menatapnya
dan menggeleng kearahnya. Ia tampak
hancur… Justin menggigit bibir bawahnya, lalu merasa bahwa jantungnya
berdenyut tiga kali lebih cepat dari biasanya, dan ada sebuah rasa sakit yang
bergelenyar aneh di dadanya.
Lalu
kembali, Justin mengingatkan dirinya sendiri dalam hati,
Tayla
mencintaiku….
Justin
mendadak terkesiap kaget saat gadis itu tiba-tiba saja menghapus air mata yang
jatuh di kedua celah pipinya, tak mempedulikan ratusan pasang mata yang
memandangnya dan membicarakannya mati-matian. Tayla akhirnya menyerah dan
memutuskan untuk mundur, memutuskan untuk berbalik, dan kemudian berlari keluar
dari ruangan yang langsung sunyi setelah Tayla menghilang dari pandangan semua
orang.
Justin
menggigit bibir bawahnya sekali lagi, sama sekali tidak berusaha untuk mengejar
dan memanggil nama Tayla. Ia justru membiarkannya
pergi.
Dan
saat itu pulalah Justin sadar, bahwa detik itu juga ia telah kehilangan separuh
hidupnya. Bahwa detik itu juga ia telah kehilangan seorang sahabat yang paling
disayanginya. Bahwa detik itu juga ia telah kehilangan Tayla..., sahabatnya
yang selalu ada untuknya.
Justin
menunduk, lalu merasakan bahwa hatinya ngilu saat kejadian beberapa minggu lalu
kembali terekam ulang di benaknya. Saat ia dan Tayla berada di taman,
memandangi langit yang tampak gelap dan tertidur hingga pagi menjelang. Suara Tayla
bergema dalam otaknya, selalu jatuh bertubi-tubi dalam otaknya ketika ia
melepaskan genggaman Scarlett dan memutuskan untuk meninggalkan pesta. Suara Tayla masih ada dan akan terus ada dalam
benak Justin ketika ia sudah keluar dari ruangan, merasakan bahwa ia menangis
untuk dirinya sendiri….
“Selamanya akan jadi milik kita, bukan? “
“Ya.
Selamanya akan jadi milik kita.”
------
Wisconsin,
Januari 2013
Justin
merasa ngilu saat memorinya berhenti berputar pada malam pesta dansa tujuh
tahun lalu, saat ia tau bahwa sahabatnya sendiri justru mencintainya. Ia ingat
betul bahwa saat itu dirinya menangis, merasakan kesakitan yang luarbiasa
karena ia harus menyakiti orang yang dicintainya. Bahwa ia harus menyakiti
Tayla, yang sampai sekarang sama sekali tidak ada kabarnya.
Sesudah
malam pesta dansa, Tayla tidak pernah terlihat lagi. Justin sudah berusaha
menghubunginya dan datang ke rumahnya, namun Tayla tidak pernah ada sampai hari
kelulusan mereka dari SMA Saint Regina diadakan. Tayla melewatkan hari
kelulusannya, dan ia juga baru mendengar kabar bahwa Tayla melewatkan
kesempatannya untuk bersekolah di Notre Dame, lebih memilih untuk pindah ke
Roma dan menjadi sukarelawan disana.
Justin
merasa dunianya hancur saat itu, karena ia telah kehilangan orang yang paling
berharga dari hidupnya. Justin bahkan sempat berpikir bahwa Tayla sekarang
membencinya, sehingga tak mau lagi melihat wajahnya barang satu kali. Hidupnya
terasa hampa tanpa Tayla, tanpa lelucon dan celetukannya yang menggelitik,
tanpa nasihatnya yang galak untuk berhenti merokok, dan untuk kecupan-kecupan
kecil di pipinya ketika ia sedang merajuk…
Justin
memejamkan mata, lalu membayangkan sosok itu dalam bayangan imajiner di otaknya. Rupanya sudah tujuh
tahun semenjak gadis itu pergi dari kehidupannya. Rupanya sudah tujuh tahun ia
merasa dunianya kosong dan hampa. Rupanya sudah tujuh tahun ia kehilangan
separuh hatinya. Dan rupanya butuh beberapa tahun baginya untuk menyadari bahwa
dirinya sendiri justru lebih mencintai Tayla.
Justin
tidak tau kapan tepatnya ketika ia menyadari bahwa sebenarnya ia tidak bisa
melanjutkan hidup tanpa Tayla. Berada di tengah hiruk pikuk kota New York
justru membuatnya yakin bahwa sedari dulu ia memang mencintai Tayla, bahwa yang
selalu ada di hatinya hanya Tayla. Dan sekarang, ia kembali lagi ke kota ini.
Ia kembali lagi ke kota yang menyimpan seluruh kenangannya bersama Tayla. Ia kembali
lagi dan duduk di markasnya, merasakan bahwa kursi sempit di taman ini sudah
usang dengan cat yang hampir mengelupas ngeri.
Ya Tuhan. Betapa berharapnya Justin
untuk bisa melihat Tayla walaupun hanya sekali…
“Kau
membuang puntung rokokmu.”
Suara
itu berhasil membuat Justin mendongak, menemukan seorang wanita yang sedang
berdiri didekatnya, tengah menyematkan sebuah senyuman manis untuknya.
“Excuse me?”
“Kau
membuang puntung rokokmu. Berhasil berhenti jadi perokok, huh?”
Justin
mengerjapkan matanya. Apakah ia mengenal
orang ini? Wanita ini tampak asing
dengan rambut sebahu dan rambut berwarna cokelat terang, dan juga setelan musim
dingin yang terlalu gelap. Justin berusaha menatap mata wanita itu ketika
wanita itu menyunggingkan senyum. Dan detik itu juga, Justin menegang, merasakan
bahwa seluruh tubuhnya benar-benar mati rasa ketika sadar bahwa ia berhasil
menemukan wanita itu lagi. Wanita dengan bola mata hijau dan senyuman paling
indah dan yang paling dirindukannya.
“Tayla.”
Kata Justin, lebih tepat untuk dirinya sendiri.
Tayla
mengangguk, lalu duduk di sebelah Justin dan kemudian menatapnya. “Jangan
merokok lagi. Aku benci melihatmu merokok.”
Napas
Justin naik turun tidak karuan. Gadis itu… ada disini, bagaimana caranya? Banyak
yang ingin disampaikannya pada Tayla, banyak yang ingin dikatakannya untuk
Tayla karena sudah tujuh tahun tidak bertemu. Tapi mulut Justin seakan
terkunci, menutup rapat-rapat ketika menyadari bahwa gadis itu memang
benar-benar gadisnya. Bagaimana ia bisa berada disini?
“Rupanya
sudah tujuh tahun, ya?” kata Tayla, lalu kembali menatap Justin, “Kau banyak
berubah.”
Justin
akhirnya tersenyum. “Dan kau juga.” Katanya, lalu ikut memandangi Tayla yang terlihat
lebih dewasa dengan tatanan rambut sebahu dan wajah yang luarbiasa cantik.
“Aku
tidak pernah menyangka jika aku harus melewatkan masa mudaku tanpamu, Mr.
Bieber. Aku jadi tidak sempat melihatmu yang berusaha mati-matian menumbuhkan
kumis.”
Justin
membuka mulutnya, lalu bibirnya menyungging sempurna. Hatinya merasa lega
sekaligus bahagia yang tiada tara. Ia bahagia bisa melihat Tayla berada di
sampingnya, lagi.
“Tayla,
soal tujuh tahun lalu di malam pesta dansa—aku benar benar minta ma—“
“Sssssh.”
Tiba-tiba Tayla memotong, meletakkan telunjuknya di bibir Justin. “Lupakan
saja, ya?”
Justin
merasa tubuhnya beku saat tiba-tiba saja Tayla menyentuhnya, menghentikan perkataannya
sekaligus menghentikan detak jantungnya.
“Kau
tidak perlu berkata apa-apa,” kata Tayla, lalu mendekat kearah Justin. “Aku
masih sahabatmu.”
Justin
tersenyum kecil ketika Tayla melepaskan telunjuknya di bibir Justin, lalu
tangannya berpindah ke tangan Justin yang ada diatas paha. Tayla mengambil
tangan itu, meremasnya dengan lembut—menyalurkan kehangatan tubuhnya pada tubuh
Justin. Tayla tidak berkata apa-apa saat dia dengan leluasa meletakkan
kepalanya di pundak Justin, membuat Justin yang ada di sebelahnya langsung
menegang namun tetap membiarkannya.
“Aku
masih sahabatmu.” Kata Tayla, sedikit berbisik dan tersenyum ketika akhirnya ia
melanjutkan, “Selamanya akan jadi milik kita, bukan?”
Justin
mengerjapkan mata, lalu merasa bahwa hatinya benar-benar damai ketika Tayla
meremas tangannya dan kepalanya terkulai bebas di pundaknya. Semua ini sama
seperti dulu—ketika mereka dengan leluasa bersentuhan sebagai sahabat. Ketika
mereka masih bisa adu mulut dan bertengkar, namun pada akhirnya menyadari bahwa
mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain.
Justin tau
persis bahwa semua ini terjadi bukan tanpa alasan. Semua ini diatur oleh
Seseorang yang selama ini tak kasat mata, namun tetap mengikuti gerak-geriknya.
Tayla hadir disini bukan tanpa alasan. Ia hadir disini karena Seseorang itu
menginginkannya untuk bisa bersama Tayla sekali
lagi.
Dan
kemudian, Justin tersenyum. Diletakannya kepalanya diatas kepala Tayla, lalu
tangannya meremas tangan Tayla ketika ia mengecup puncak kepalanya dan berkata,
“Ya.
Selamanya akan jadi milik kita.”
THE
END
Langganan:
Postingan (Atom)
